“PARAGRAF”
“Makalah ini di susun dalam rangka
memenuhi salah satu Tugas kelompok pada Mata Kuliah Bahasa Indonesia
Dosen
Pengampu : Nisa Afifah, S.S.M.Hum.
DI
SUSUN OLEH :
KELOMPOK
III
1.
Muhammad Ova L.B.H (33010190142)
2.
Vina Indras Arviana (33010190121)
3.
Niken Ayu Widowati (33010190158)
4.
Anna Muntadhirotussa’adah (33010190147)
5.
Lu’luil Maknun (33010190125)
6.
Aufa Nuha Ikhsani (33010190128)
7.
Tedi Bayu Andika (33010190127)
FAKULTAS
SYARI’AH
PROGRAM
STUDI HUKUM KELUARGA ISLAM KELAS D
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA
2019
i
KATA
PENGANTAR
Puji
dan Syukur kami panjatkan kehadirat Allah S.W.T, atas segala rahmat dan
karunia-Nya, tak lupa sholawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Besar
Muhammad S.A.W atas petunjuk dan risalah-Nya. Sehingga, makalah bejudul “PARAGRAF” ini dapat kami selesaikan
dengan lancar dan rapi pada mata kuliah Bahasa Indonesia. Dan tak lupa
kami ucapkan atas doa restu juga dorongan dari berbagai pihak yang telah
membantu kami dalam menyusun makalah ini. Terutama kepada beliau guru
pembimbing kami yang senantiasa memberikan dukungan serta bimbingannya.
Kami
menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan,
oleh karena itu, kami memohon maaf sebesar-besarnya dan kami sangat menghargai
atas akan saran dan kritik untuk membangun makalah ini menjadi lebih baik.
Demikian yang dapat kami sampaikan, semoga melalui makalah ini dapat memberikan
manfaat dan wawasan bagi kita semua.
ii
DAFTAR ISI
1,
HALAMAN JUDUL……………………………………………………………………..….i
2.
KATA PENGANTAR……………………………………………………………………...ii
3.
DAFTAR ISI……………………………………………………………………………….iii
BAB
I PENDAHULUAN……………………………………………………………………..1
A. Latar
Belakang…………………………………………………………………….1
B. Rumusan
Masalah…………………………………………………………………1
C. Tujuan……………………………………………………………………………...1
BAB
II PEMBAHASAN………………………………………………………………………2
A. Definisi
Paragraf…………………………………………………………………2
B. Ciri-ciri
Paragraf…………………………………………………………………...2
C. Syarat-syarat
Pembentukan Paragraf……………………………………………....3
D. Pola
Pengembangan Paragraf……………………………………………………...5
E. Jenis-jenis
Paragraf………………………………………………………………...6
BAB
III PENUTUP…………………………………………………………………………..10
A. Kesimpulan……………………………………………………………………...10
B. Kritik
dan Saran…………………………………………………………………..10
DAFTAR
PUSTAKA………………………………………………………………………...11
LAMPIRAN………………………………………………………………………………….12
iii
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Biasanya
kesulitan yang kita hadapi dalam menuangkan sebuah pikiran adalah
mengungkapkannya menjadi kalimat dalam bahasa ilmiah. Sering sekali kita
menjumpai kesalahan dalam membedakan antara kalimat dan paragraf. Padahal,
gabungan antara kalimatlah yang membentuk suatu paragraf.
Dalam
kenyataannya kadang-kadang kita menemukan sebuah paragraf yang hanya terdiri
dari satu kalimat, yang sebenarnya itu memang dimungkinkan. Namun, dalam
pembahasan kali ini wujud paragraf seperti itu dianggap sebagai pengecualian
karena paragraf semacam itu jarang dipakai dalam karya tulis ilmiah.
B.
Rumusan
Masalah
-
Apakah yang dimaksud dengan paragraf?
-
Bagaimanakah ciri-ciri sebuah paragraf?
-
Apa sajakah syarat-syarat yang harus
dipenuhi untuk menyusun sebuah paragraf?
-
Ada berapakah cara untuk mengembangkan
sebuah paragraf?
-
Apa sajakah jenis-jenis paragraf yang
ada?
C.
Tujuan
Adapun
tujuan pembahasan materi ini adalah untuk memahami apa itu paragraf, mulai dari
pengertian, ciri-ciri, syarat-syarat pembentukan paragraf, pola pengembangan
paragraf, serta jenis-jenis paragraf.
1
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Definisi
Paragraf
Dalam
KBBI, paragraf adalah bagian bab dalam suatu karangan (biasanya mengandung satu
ide pokok dan penulisannya dimulai dengan garis baru).
Sedangkan menurut Akhaidah dan kawan-kawan
(1999:144) paragraf merupakan inti penuangan buah pikiran yang didukung oleh
semua kalimat dalam paragraf tersebut, mulai dari kalimat pengenal, kalimat
utama atau kalimat topik, kalimat penjelas sampai pada kalimat penutup.
Himpunan kalimat ini saling bertalian dalam suatu rangkaian untuk membentuk
suatu gagasan.
Sedangkan definisi paragraf menurut kami
adalah gabungan dari beberapa kalimat yang mengandung suatu ide pokok atau
gagasan utama, dan biasanya diawali dengan garis baru yang letaknya menjorok
kedalam.
B.
Ciri-ciri
Paragraf
Dilihat
dari segi penulisan umumnya diawali dengan garis baru yang letaknya menjorok
kedalam. Sedangkan dilihat dari strukturnya, paragraf memiliki delapan
kemungkinan. Yaitu :
-
Paragraf terdiri dari transisi kalimat,
kalimat topik, kalimat pengembang, dan kalimat penegas.
-
Paragraf terdiri dari transisi berupa
kata, kalimat topik, kalimat pengembang, dan kalimat penegas.
-
Paragraf terdiri dari kalimat topik,
kalimat pengembang, dan kalimat penegas
-
Paragraf terdiri dari transisi berupa
kata, kalimat topik, dan kalimat pengembang.
-
Paragraf terdiri dari transisi berupa
kalimat, kalimat topik, dan kalimat pengembang.
-
Paragraf terdiri dari kalimat topik dan
kalimat pengembang.
-
Paragraf terdiri dari kalimat pengembang
dan kalimat topik1
C.
Syarat-syarat
Pembentukan Paragraf
Syarat-syarat
dalam membuat sebuah paragraf yang baik ada tiga. Yaitu : Kelengkapan paragraf,
Kesatuan paragraf, Kepaduan paragraf.
1. Kelengkapan
Paragraf
Menurut Akhadiah (1992 : 152), suatu paragraf
dikatakan lengkap jika berisi kalimat-kalimat perincian yang cukup untuk
menunjang kejelasan kalimat topik atau kalimat utama. Sebaliknya, suatu
paragraf dikatakan tidak lengkap jika tidak dikembangkan atau hanya diperluas
dengan pengulangan-pengulangan.1
2. Kesatuan
Paragraf
Kesatuan paragraf ditandai dengan adanya satu
pokok pikiran dalam setiap paragraf. Oleh sebab itu, kalimat-kalimat pembentuk
paragraf perlu ditata secara cermat agar tidak ada satupun kalimat yang
menyimpang dari ide pokok paragraf tersebut.2
3. Kepaduan
Paragraf
Kepaduan paragraf ditandai dengan adanya
penyusunan kalimat secara logis melalui ungkapan pengait antar kalimat. Urutan
yang logis dapat diketahui melalui susunan kalimat. Untuk membuat paragraf
menjadi padu kita harus memperhatikan urutan isi paragraf dan masalah
kebahasaan.3
1Retno
Purwandari, Buku Pintar Bahasa Indonesia
(Yogyakarta: Istana Media, 2017),
hal 88
2Ainia
Prihantini, Master Bahasa Indonesia (Yogyakarta:
B-First, 2015), hal 84
3op.cit
Pertama, yang dimaksud dengan pemerincian
atau urutan isi paragraf adalah bagaimana pengembangan sebuah gagasan utama dan
bagaimana
hubungan antara
gagasan-gasan bawahan yang menunjang gagasan utama tadi. Penulis dapat menjamin
kepaduan dengan mengemukakan perincian isi berdasarkan urutan ruang (spasial),
urutan waktu (kronologis), urutan logis (sebab-akibat, akibat-sebab,
umum-khusus, khusus-umum), urutan proses, atau sudut pandang satu kesudut
pandang yang lain.
Kedua,
untuk masalah kebahasaan kita dapat mengamankannya dengan beberapa cara yaitu :
1. Repetisi
Kepaduan
sebuah paragraf dapat diamankan dengan mengulang kata-kata kunci. Yaitu,
kata-kata yang dianggap penting dalam paragraf.
2. Kata
Ganti
Untuk
menghindari segi-segi negatif dari
pengulangan kata, setiap bahasa di dunia ini memiliki sebuah alat yang
dinamakan kata ganti. Kata ganti itu timbul untuk menghindari pengulangan kata
atau biasa yang disebut anteseden (dalam (bidang) linguistik (tata bahasa,
khususnya sintaksis) anteseden bermakna ungkapan atau unsur (kata, frasa,
klausa, kalimat) pendahulu atau sebelumnya yang ditunjukkan oleh suatu ungkapan
(kata, frasa, klausa, kalimat)) dalam kalimat-kalimat berikutnya.
3. Kata
transisi
Kata
transisi berfungsi sebagai jalan tengah antara repetisi dan kata ganti. Oleh
karena itu, diperlukan bantuan, dalam hal ini bantuan kata-kata atau
frasa-frasa transisi sebagai penghubung antara klausa dengan klausa (intra
kalimat), kalimat dengan kalimat (antar kalimat), paragraf dengan paragraf
(antar paragraf), Ada bermacam-macam kata transisi yang bisa digunakan dalam
tulisan karya-karya ilmiah sesuai dengan jenis hubungannya. Diantaranya yaitu :
- Hubungan yang
menyatakan tambahan kepada sesuatu yang telah disebut sebelumnya (lebih lagi,
seperti halnya, kedua, juga).
- Hubungan yang
menyatakan pertentangan dengan sesuatu yang telah disebut dahulu (tetapi,
namun, meskipun, sebaliknya).
- Hubungan yang
menyatakan perbandingan (seperti, sama halnya, sebagaimana).
- Hubungan yang
menyatakan akibat atau hasil (jadi, oleh sebab itu, oleh karena itu).
- Hubungan yang
menyatakan tujuan (supaya, untuk maksud itu).
- Hubungan yang menyatakan
singkatan, contoh, dan intensifikasi (singkatnya, ringkasnya, pendeknya, yakni,
yaitu).
- Hubungan yang
menyatakan waktu (sementara itu, segera, sesudah, kemudian).
- Hubungan yang
menyatakan tempat (disini, disitu, diseberang).4
D.
Pola
Pengembangan Paragraf
Dalam mengembangkan paragraf, ada beberapa
metode yang dapat digunakan. Yaitu :
1. Secara
alamiah
Terdiri
atas dua cara, yaitu urutan ruang (spasial) dan urutan waktu (kronologis).
2. Klimaks-Antiklimaks
Gagasan
utama mula-mula diperinci dengan sebuah gagasan bawahan yang dianggap paling
rendah kedudukannya dan berangsur-angsur menuju ke gagasan yang paling tinggi
kedudukannya. Hal itulah yang disebut klimaks, sedangkan variasinya adalah
antiklimaks.
3. Secara
logis
Pengembangan
paragraf secara logis dapat dilakukan dengan berbagai cara. Diantaranya adalah
pemaparan sebab-akibat, akibat-sebab, umum-khusus, dan khusus-umum.
4Retno
Purwandari, Buku Pintar Bahasa Indonesia (Yogyakarta:
Istana Media, 2017), hal 89
4. Perbandingan
atau Pertentangan
Penulis
berusaha membandingkan atau mempertentangkan dengan cara menunjukkan persamaan
dan perbedaan antara dua hal atau lebih.
5. Analogi
Digunakan
untuk membandingkan sesuatu yang sudah dikenal umum dengan yang belum atau
kurang dikenal umum, Kegunaannya untuk membantu kejelasan dari apa yang ingin
dipaparkan penulis.
6. Proses
atau Langkah-langkah
Paragraf
ini berusaha memaparkan langkah-langkah atau suatu proses tentang sesuatu hal.
7. Contoh-contoh
Sebuah
generalisasi yang terlalu umum sifatnya agar dapat memberikan penjelasan kepada
pembaca, kadang-kadang memerlukan contoh yang konkret.
8. Definisi
luas
Untuk
memberikan batasan tentang sesuatu, penulis harus menguraikan dengan beberapa
kalimat, bahkan beberapa paragraf. Hal ini dapat dipelajari dalam hal definisi.
9. Klasifikasi
Dalam
pengembangan paragraf, kadang-kadang kita mengelompokkan hal-hal yang mempunyai
persamaan. Pengelompokan ini biasanya diperinci lagi kedalam kelompok-kelompok
yang lebih kecil.5
E.
Jenis-jenis
Paragraf
Ada
tiga macam jenis-jenis paragaraf. Yaitu :
5ibid,
hal 90
1. Pembagian paragraf berdasarkan fungsi:
a.
Paragraf
Pembuka
Paragraf pembuka atau paragraf pendahuluan berfungsi
sebagai pembuka atau pengantar pokok pembicaraan untuk sampai kepada masalah
yang diuraikan dalam karangan, paragraf jenis ini harus mampu mengundang minat
dan perhatian pembaca, serta sanggup menyiapkan atau menata pikiran pembaca
untuk mengetahui seluruh isi uraian. Paragraf pembuka umumnya ditulis untuk
memancing rasa keingintahuan pembaca terhadap isi artikel secara keseluruhan.
Contoh paragraf jenis ini adalah:
“Kali ini kita akan membahas manfaat kelapa untuk kesehatan.
Kelapa banyak kita jumpai di pedesaan khususnya daerah pesisir. Namun tidak
menutup kemungkinan di daerah pedalaman bahkan dataran tinggi juga masih dapat
dijumpai pohon kelapa.
a.
Paragraf
Penghubung
Paragraf penghubung adalah paragraf-paragraf yang berfungsi
mengemukakan inti persoalan, juga memberi ilustrasi atau contoh. Semua masalah
yang akan diuraikan dimuat dalam paragraf-paragraf ini yang secara teknis
ditempatkan di antara karangan satu ke karangan lainnya. Dengan demikian
paragraf ini berisikan pembahasan inti persoalan yang dikemukakan. Contoh
paragraf jenis ini adalah:
“Beberapa manfaat kelapa di antarannya, dapat
menetralisir racun. Menghilangkan cairan tubuh yang hilang dan bisa
menggantikan infus.”
b.
Paragraf
Penutup
Paragraf penutup adalah paragraf yang berada pada bagian
akhir tulisan yang berisikan simpulan dari semua uraian sebelumnya dengan
fungsinya sebagai penutup. Paragraf ini merupakan pernyataan atau penegasan
kembali mengenai masalah-masalah yang dianggap penting dalam paragraf
penghubung. Kalimat-kalimat yang menyusunnya diusahakan dapat menimbulkan kesan
yang mendalam bagi pembaca. Seperti halnya paragraf pembuka, paragraf ini tidak
boleh terlalu banyak atau terlalu panjang. Paragraf ini biasanya berisi kesimpulan,
saran,
harapan,
ringkasan, dan penekanan kembali hal-hal penting yang terdapat dalam setiap
karangan. Contoh paragraf jenis ini adalah:
“Demikian beberapa manfaat dari buah kelapa yang saya
bagikan, semoga bisa bermanfaat”(Alwi, 2001:33).
1. Pembagian paragraf berdasarkan pola
penalarannya :
a.
Paragraf
Ineratif
Paragraf ineratif adalah paragraf yang kalimat utamanya terletak di tengah
paragraf. Dalam sebuah paragraf ada kalimat penjelas/pendukung dan kalimat
utama. Di paragraf ineratif, kalimat utama justru diletakkan di tengah
paragraf.
b. Paragraf
Deduktif
Paragraf
deduktif adalah paragraf yang kalimat utamanya terletak pada awal
paragraf. Pengertian awal paragraf ini tidak harus pada kalimat pertama. Sebab,
banyak paragraf yang kalimat pertamanya berupa kalimat transisi. Paragraf yang
mengandung kalimat transisi, kalimat utamanya berada dalam posisi kalimat
kedua.
c. Paragraf
Induktif
Paragraf Induktif adalah paragraf yang kalimat
utamanya terletak pada akhir paragraf.
Biasanya kalimat utama pada paragraf induktif menggunakan konjungsi penyimpulan
antarkalimat, seperti jadi, maka, dengan demikian, akhirnya, karena itu, dan
lainnya.
d. Paragraf
Deduktif-Induktif
Paragraf Deduktif-Induktif adalah
paragraf yang kalimat utamanya berada di
awal dan sekaligus di akhir paragraf. Kalimat utama yang berada di akhir
paragraf itu merupakan pengulangan atau penegasan kalimat utama pada awal paragraf. Sebagai pengulangan atau
penegasan , wujud kalimat utama yang berada di akhir paragraf itu tidak selalu
sama dengan kalimat utama yang berada di awal paragraf (Alwi, 2001:40).6
8
6Asul
Wiyanto, Kitab Bahasa Indonesia (Yogyakarta:
Galang Press, 2012), hal 110
2.
Pembagian
paragraf berdasarkan isinya:
a.
Paragraf
Persuasi
Paragraf ini berisi bujukan untuk para pembaca agar menerima gagasan
ataupun ide yang disampaikan oleh penulis. Selain itu, paragraf persuasi juga
menggunakan sejumlah unsur untuk menjadikan pembaca tertarik membaca paragraf
ini, yaitu:
Adanya
penggunaan bahasa yang menarik, adanya kata-kata ajakan (ayo, mari, dsb nya),
adanya partikel –lah yang terdapat pada kata-kata tertentu
b. Paragraf Argumentasi
Paragraf ini berisi pendapat penulis yang disertai dengan bukti dan
alasannya. Paragraf ini ditunjukkan untuk mengemukakan gagasan berdasarkan
fakta dan alasan kuat, sehingga pembaca pun yakin dan setuju atas gagasan
tersebut.
c.
Paragraf
eksposisi
Paragraf ini berisi tentang uraian sebuah gagasan yang memiliki tujuan untuk menjelaskan
sesuatu. Urain tersebut tentu didukung sejumlah fakta agar para pembaca bisa
mempercayainnya.
d.
Paragraf
Narasi
Isi dari paragraf ini adalah kisah tentang suatu peristiwa atau kejadian
yang didasari oleh data dan fakta yang ada.
e.
Paragraf
Deskripsi
Merupakan paragraf yang berisi penggambaran sebuah objek secara detail,
sehingga pembaca pun seolah dapat melihat atau merasakan objek tersebut. Berisi
penggambaran objek atau benda, banyak menggunakan jenis-jenis kata sifat di
dalamnya
(Alwi, 2001:44).
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Paragraf atau alinea merupakan kumpulan
suatu kesatuan pikiran yang lebih tinggi dan lebih luas daripada kalimat atau
kumpulan dari beberapa kalimat yang berhubungan antara yang satu dengan yang
lain dalam satu rangkaian yang membentuk suatu paragraf. Umumnya sebuah
paragraf diawali dengan garis baru yang letaknya menjorok kedalam.
B.
Kritik
dan Saran
Dalam membuat suatu paragraf yang terdiri dari
beberapa kalimat harus mengetahui dahulu kalimat yang akan disusun menjadi
sebuah paragraf tersebut.
Demikian
makalah ini kami buat, semoga bermanfaat dan menambah wawasan bagi para
pembaca. Apabila ada kesalahan dalam penyusunan makalah ini, kami sebagai
penulis memohon maaf sebesar-besarnya. Kami juga mengharapkan kritik dan saran
dari para pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
1. Prihantini,
Ainia. 2015. Master Bahasa Indonesia. Yogyakarta:
B-First.
2. Purwandari,
Retno. 2017. Buku Pintar Bahasa
Indonesia. Yogyakarta: Istana Media.
3. Wiyanto,
Asul. 2012. Kitab Bahasa Indonesia. Yogyakarta:
Galang Press.
4. Akhadiah,
Sabarti, dkk. 1992. Pembinaan Kemampuan
Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.
5. Suyatno.
2004. Teknik Pembelajaran Bahasa dan
Sastra. Surabaya: SIC.
6. Alwi,
Hasan. 2001. Paragraf. Jakarta: Departemen
Pendidikan Nasional.
LAMPIRAN




Tidak ada komentar:
Posting Komentar