Sejarah Perkembangan Islam Di Desa Genting
Tulisan ini disusun untuk mememnuhi tugas mata kuliah Sejarah Peradaban Islam
Dosen Pengampu: Khoirul Anwar, M. AG
Disusun oleh:
Muhammad Romdhoni (33010190124)
HUKUM KELUARGA ISLAM
FAKULTAS SYARI’AH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA
2019
Biografi H. Mitro Pawiro (Mbah Carik)
H. Mitro Pawiro
(Mbah Carik)
H. Mitro Pawiro adalah seseorang yang mengembangkan agama Islam di Desa Genting. Beliau lahir di Desa Salam, Samiran, Selo, Boyolali pada tahun 1920. Beliau merupakan putra sulung dari Mbah Basirun dan Mbah Sariyem. Pada waktu kecil Mbah Carik sudah gemar dengan ilmu-ilmu agama. Mbah Carik sering ikut bapaknya pergi mengaji ke desa-desa lain. Pada tahun 1940 beliau disuruh bapaknya untuk pergi mengaji ke Solo dengan Mbah Muqarab (Putra Kiai Ahmad Siroj).
Pada waktu itu beliau langsung pergi ke Solo untuk mengaji bersama Mbah Muqarab. Setelah mengaji selama 3 tahun bersama Mbah Muqarab, beliau pulang ke Selo pada waktu itu beliau sudah berumur 23 tahun. Seiring berjalannya waktu beliau Mbah Carik mencintai seorang wanita yang bernama Siti. Siti adalah seorang wanita yang membantu ibunya berjualan sembako di salah satu warung di Desa Genting.
Dalam cerita pada suatu hari sekitar jam 03.00 pagi, secara tidak sengaja Mbah Carik sedang pulang dari Solo dan Siti sedang pulang dari pasar cepogo untuk belanja. Mbah Carik mengikuti Siti dari belakang, setiap kali Siti menoleh ke belakang Mbah Carik hanya berjalan biasa agar Siti tidak curiga. Karena Mbah Carik sudah tahu kapan waktunya Siti untuk ke pasar. Hal tersebut dilakukan secara berulang kali, tujuan Mbah Carik adalah agar Siti terhindar dari bahaya karena pada waktu itu jalan di Cepogo masih gelap dan masih banyak pepohonan.
Singkat Cerita Siti mulai tertarik dengan Mbah Carik. Dan pada tahun 1945 mereka berdua menikah dan tinggal di Desa Genting. Mereka dikaruniai tujuh orang anak. Setelah menikah Mbah Carik baru mengetahui ternyata istrinya adalah sepupu dari guru ngajinya atau Mbah Muqarab (putra Kiai Ahmad Siroj). Setelah itu Mbah Carik berani meminta izin untuk ikut ngaji dengan Mbah Siroj dan akhirnya Mbah Siroj mengizinkan Mbah Carik untuk mengaji dengannya.
B. Mengaji Dengan Kiai Ahmad Siradj (Mbah Siroj)
Mbah siroj bertempat tinggal di Kota Solo. Beliau dikenal sebagai seorang waliyullah yang memiliki berbagai kisah yang penuh karomah salah satunya adalah ilmu “melipat bumi” sehingga perjalanan yang ia tempuh menjadi lebih singkat. Contohnya setiap kali shalat subuh berjamaah pada hari jumat beliau menjadi imam di salah satu masjid di Kota Solo. Saat setelah takbir pertama jiwa beliau langsung ada di makkah dan disana beliau juga berwujud seperti manusia. Sebab banyak para ulama yang sedang menunaikan ibadah Haji bertemu beliau, padahal beliau Mbah Siroj belum pernah menunaikan ibadah Haji. Mereka sempat menyapa dan juga sedikit berbicara dengan Mbah Siroj.
Akan tetapi setelah ditinggal menoleh Mbah Siraj sudah tidak ada lagi, karena saat Shalat Subuh sudah selesai jiwa Mbah Siraj kembali ke tubuh yang sedang menjadi imam masjid. Hal tersebut terjadi secara berulang kali sehingga hal tersebut menjadi salah satu karomah Kiai Ahmad Siraj.
Mbah Carik mulai mengaji dengan mbah siraj pada tahun 1957. Beliau mengaji dari Genting sampai Solo dengan cara berjalan kaki. Padahal saat ini, jika ditempuh dengan menggunakan sepeda motor memerlukan waktu satu jam lebih untuk sampai kesana. Hal tersebut tidak membuat Mbah carik patah semangat dalam mencari ilmu. Pada tanggal 10 Juni 1961 beliau Mbah Siroj meninggal dunia dan Jenazahnya dikebumikan di Tempat Pemakaman Umum Makam Haji, Kartasura, Sukoharjo.
Setelah Mbah Siraj meninggal dunia Mbah carik berhenti mengaji ke Solo dan pulang ke rumah. Dan menyediakan tempat untuk pemuda di Desa Genting untuk belajar mengaji.
C. Perkembangan Islam di Desa Genting
Pada tahun 1979 Mbah Carik menyediakan tempat untuk belajar para pemuda di rumahnya. Pada waktu itu hanya ada sembilan pemuda yang belajar kerumahnya yaitu: Tarno, Triyono, Sungadi, Siram, Simen, Tukimen, Giyanto, Waluyo, dan Marsudi. Mereka diajari untuk membaca ayat Al – Qur’an, membaca kitab-kitab kuning dan Al – Bernjanji. Seiring berjalannya waktu Mbah Carik berencana ingin mendirikan Mushola.
Pada suatu hari mereka semua diajak bermusyawarah tentang rencana pendirian Mushola. Dan ada salah satu muridnya yang bernama simen yang menyedekahkan sebidang tanahnya yang terletak didalam desa untuk didirikan Mushola. Dan terlaksanakannya pendirian Mushola pada tahun 1983 oleh sembilan murid dan Mbah Carik sendiri. Mereka mendirikan Mushola dengan cara mencari bantuan dari masyarakat di desa.
Dan Mbah Carik membantu dengan sekuat tenaganya, beliau adalah salah satu donatur terbanyak dalam pembangunan Mushola. Beliau juga meminta bantuan kepada temannya yaitu Mudiniyyah dalam material seperti Batu dan Pasir, dan juga meminta bantuan kepada Sarti beliau meminta bantuan berwujud kayu- kayu milik Sarti. Pembangunan Mushola berlangsung selama dua bulan, Mushola tersebut diberi nama Mushola Al- Huda.
Saat Mushola sudah jadi Mbah Carik Mulai berdakwah dengan menggunakan pengeras suara agar masyarakat di Desa Genting tertarik untuk pergi ke Mushola. Dakwah beliau dilakukan dengan cara berkutbah dan siraman rohani. Dan mulai saat itulah masyarakat Desa Genting tertarik untuk pergi ke Mushola.
Anak- anak kecil beramaian belajar mengaji pada sore hari setelah Sholat Asar, sedangkan bapak- bapak belajar mengaji pada malam hari setelah Sholat Maghrib dan setelah Sholat Isya. Para pemuda yang tadinya belum Sholat menjadi Sholat, yang tadinya main judi menjadi tidak berjudi lagi, yang tadinya tidak tahu salah dan benar mereka menjadi tahu. Sehingga pada waktu itu Mushola adalah tempat untuk mencari tahu dan mendalami tentang Agama Islam di Desa Genting.
Mushola Al- Huda yang sekarang
D. H. Mitro Pawiro Wafat
Sebelum Mbah Carik wafat, istrinya yaitu Mbah Siti sudah lebih dulu meninggal dunia. Mbah Siti wafat pada tanggal 17 September 1990. Jadi setelah itu Mbah carik tinggal dengan anaknya. Pada tahun 1994 sebelum beliau wafat Mbah Carik sakit dan dibawa kerumah sakit selama dua hari dan akhirnya beliau meninggal pada hari Minggu Kliwon dan dimakamkan di Tempat Pemakan Umum Desa Genting.
Itulah sedikit sejarah perkembangan Islam di Desa Genting.








Tidak ada komentar:
Posting Komentar