SEJARAH DANAU TOBA-NYA
GROBOGGAN
(BENDUNGAN NGLANGON)
Tulisan Ini Di Buat
Untuk Memenuhi Tugas Ujian Akhir Semester Gasal Mata Kuliah Sejarah Peradaban
Islam
Dosen Pengampu: Bapak Khoirul
Anwar, M. Ag.
Disusun Oleh:
Aufa Nuha Ikhsani 33010190128
PROGRAM STUDI HUKUM
KELUARGA ISLAM
KELAS D
FAKULTAS SYARIAH
INSTITUT AGAMA ISLAM
NEGERI (IAIN) SALATIGA
2019
Pendahuluan
Bendungan Nglangon adalah salah
satu bendungan yang berada di kabupaten Grobogan. Bendungan ini diresmikan oleh
bupati Grobogan yaitu Bu Sumarni tahun 2018 menjadi salah satu wisata di
kabupaten Grobogan. Lebih tepatnya bendungan ini berada di dusun Nglangon, desa
Kradenan, kecamatan Kradenan, kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Selain
meresmikan bendungan Nglangon, Bu Bupati juga mengenalkan Pasar Kalangon dan
Lestari Nglangon Camp ( taman yang berada di dekat bendungan Nglangon).
Apakah benar bendungan ini
dibangun pada zaman penjajah dulu ?, dan apakah benar bendungan ini dibangun
memakan banyak korban?. Patut kita tunggu uraian selanjutnya dari penulis ini.
Sejarah Bendungan Nglangon (danau tobanya kabupaten Grobogan)
Kenapa danau toba-nya Grogogan ?
Karena bendungan Nglangon
memiliki punya kecil yang berada di tengah-tengah air. Seperti yang dimiliki
danau toba di Sumatra, yaitu pulau samosir.
Bendungan Nglangon salah satu
bendungan terlama di kabupaten Grobogan, jawa tengah. Dan bendungan lainnya
buatan Belanda yang ada di Grobogn antara lain; Bendungan Simo (desa Simo
kecamatan Kradenan), Waduk Botak, Waduk Dumpul ( kecamatan Ngaringan), waduk
Sanggeh (di Purwodadi). Bendungan ini dibangun dari tahun 1911-1914 masehi.
Dari tahun pembangunan yang sudah lama sekali, sekitar 105 tahun yang lalu. Itu
jauh lebih tua dari kemerdekaan kita yang baru 74 tahun ini. Bisa kita simpulkan
bahwa bendungan Nglangon adalah salah satu infrastruktur yang di buat oleh
pemerintah Belanda dulu. Belanda membangun bendungan Nglangon bertujuan agar
masyarakat Nglangon dulu mudah mendapatkan pengaliran air dari bendungan
tersebut. Sebenarnya bendungan ini tidak memeliki sumber mata air sendiri
(sumber air hanya sekitar 0,8 liter), melainkan air yang ditampung bendungan
itu aliran dari gunung-gunung disekitarnya yang dialirkan ke bendungan
Nglangon. Yang nantinya air-air itu akan di alirkan ke sawah-sawah petani untuk
membantu perairan tanaman mereka. Belanda selalu meliciki Indonesia untuk
kepentingan negaranya sendiri. Yang awalnya berniat baik untuk mengairi
sawah-sawah petani. Tapi hasil dari panen petani nanti akan di ambil oleh
Belanda dan para petani tidak di kasih apa-apa (tanam paksa). Perairan
bendungan ini lebih khusus kedalam desa Kradenan, tapi juga mencakup desa
Banjardowo, desa sambongbangi (utara desa Kradenan) dan desa Pandan Harum
(sebelah timur desa Kradenan) yang itupun hanya sebagian kecil.
Pembangunannya pun tidak
menggunakan alat-alat berat pada zaman sekarang, melainkan secara manual
menggunakan tenaga manusia semua, seperti menggunakan cangkul, sekop bambu,
linggis dan lain sebagainya. Pembangunan ini memakan banyak korban (apakah
korban tersebut dikubur hidup-hidup didalam bendungan? Itu masih menjadi
pertanyaan) karena pemerintah Belanda memberlakukan simtem kerja rodi.
Dahulu bendungan ini hanya
gundukan tanah homogen saja.
Bendungan ini
memiliki tinggi 14,80 meter diatas dasar sungai. 21 meter diatas galiannya.
Panjangnya 440 meter. Volume airnya pun berbeda-beda, saat musim hujan 2,50
juta meter3 Dan normalnya volume air bendungan itu adalah 2,104 juta
meter3. Bendungan ini mampu mengairi 750,00 Ha.
Renovasi
Bendungan Nglangon
Bendungan Nglangon sudah mengalami dua kali perenovasian. Pertama
di renovasi di tahun 1978, dilakukan reparasi terhadap bendungan dan itu
mengalami kegagalan. Sehingga membuat bendungan reparasi itu di bongkar lagi.
Kemudian tahun 1995 baru di kasih batu-batu sebagai penguat bendungan agar
tidak terjadi kelongsoran tanah akibat air waduk.
Tahun 2012 baru dikasih penerangan lambu jalan di sekeling
bendungan Nglangon. Pengaspalan jalan di sekitar bendungan juga. Dan sebelum
diresmikan tahun 2019 oleh Bu Bupati Grobogan, Bu Sumarni, bendungan Nglangon
mengalami perubahan yang luar biasa. Yang awalnya hanya menjadi tempat
pemancingan, kini menjadi tempat salah satu wisata di kabupaten Grobogan.
Pembatas jalan dan bendungan diwarnai warna-warna agar lebih
menarik. Ada juga Nglangon Lestari Camp, yaitu taman yang dibuat oleh pemuda
desa Kradenan untuk lebih menarik pengunjung. Ada juga pasar kalangon, yaitu
pasar yang ada di dekat bendungan Nglangon yang menjual aneka makanan-makanan
tradisional.
Pasar Kalangon
Pasar Kalangon adalah pasar yang menjual makanan-makanan
tradisional. Dimana pembayarannya di situ berbeda dari pasar-pasar lainnya.
Sebab di pasar Kalangon itu, jika kita ingin membeli makanan kita harus menukar
uang kita dulu dengan bambu belahan yang sudah di siapkan oleh pengelola pasar
Kalangon. Satu bambu belah dihargai dua ribu rupiah. Pasar Kalangon buka
sebulan dua kali, setiap minggu pertama, dan minggu ketiga di setiap bulannya.
Pasar ini berdiri atas inisiatif para pemuda kreatif di desa
Kradenan. Mereka merancang pasar sedemikian menariknya yang mungkin baru ada di
Grobongan. Karena pasar itu menjual makanan tradisional, yang mungkin sudah
terlupakan oleh masyarakat digital era milenial ini.
Nglangon Lestari Camp
Nglangon Lestari Camp adalah sebuah taman atau wahana main yang ada
di sekitaran bendungan Nglangon. Banyak sekali bunga-bunga yang menjadi hiasan
di Lestari Camp. Gubug-gubug unik yang menjadi singgahan melihat keindahan
Nglangon. Menikmati udara sejuk di sekitaran Nglangon.
Kesimpulan
Selain memiliki sejarah yang menarik dari bendungan Nglangon itu
sendiri. Ada perjuangan dalam pembuatannya, memakan banyak korban dari para
pahlawan bangsa. Tapi sekarang bendungan Nglangon di sulap menjadi wahana
wisata yang banyak diminati oleh warga Grobogan khususnya, dan adapula yang
dari Blora. Ada pesona indah danau tobanya Grobogan (yaitu bendungan Nglangon
itu sendiri), ada pasar Kalangon dengan khas makanan tradisionalnya, Nglangon
Lestari Camp yang menjadi persinggahan para wisatawan untuk menikmati keindahan
dari bendungan Nglangon itu sendiri. (aufanuha/red).






Tidak ada komentar:
Posting Komentar