Minggu, 24 November 2019

Sejarah Ponpes Al-Manar SMS1

Makalah ini Disusun untuk Memenuhi Tugas  Mata Kuliah SPI
Dosen Pembimbing : Khoirul Anwar, M.Ag.

Disusun Oleh :
Miftakhudin (33010190148)

             Profil Pondok Pesantren Al-manar
A. Sejarah Berdirinya


Al-manar adalah sebuah pondok pesantren putra-putri yang terletak di Jalan Raya Solo-Semarang. Tepatnya di Desa Bener Kecamatan Tengaran Kabupaten Semarang,  3 KM sebelah Selatan kota Salatiga.
             Nama Al-manar secara resmi muncul pada masa kepengasuhan Kyai Fatkhurrohman, tahun 1982  yang merupakan perkembangan lebih lanjut dari pesantren “As-syuyuthiyyah” yang didirikan dan dirintis oleh Al Mukarom Simbah K.H. Djalal Suyuthi pada tahun 1913.
              Misi Al-Manar adalah menciptakan generasi yang berakhlaqul karimah dan mampu menghadapi tantangan zaman modern. Misi itu dituangkan dalam kurikulum yang menerapkan sistem klasik ( sorogan dan bandongan)  yang bertitik berat pada kajian-kajian kitab kuning karangan ulama’ syafi’iyah.  Oleh karena itu, subtansi yang ditekankan adalah nahwu, sorof, fiqih, ushul fiqih, hadits, tafsir, tauhid, tasawuf, dan tarikh.
             Berikut ini adalah singkat perjalanan Pon-pes Al-Manar yang diambil dari beberapa sumber.
             Desa Petungsari adalah sebuah desa yang sekarang bernama “Bener”. Karena penjajahan yang dialaminya, kesulitan dalam mengembangkan syiar islam dirasakan sekali oleh masyarakat desa ini. Cuma satu dua orang yang mengenal ajaran islam, bahkan masyarakat desa ini dikenal sebagai masyarakat yang rusak dan akrab dengan mo-limo dan jauh dari agama serta banyak non muslimnya.
               Bapak Juwahir,  salah satu warga desa petungsari yang memimpin sebuah mushola, yang merasa tergugah untuk memperdalam ajaran Agama Islam dengan menjadi santri dari Kyai Naim,  Kyai dari desa Cabean.  Semakin hari jamaah di mushola beliau semakin bertambah banyak sehingga terjadilah sebuah kesepakatan antara Bapak Juwahir dengan Kyai Naim untuk mendatangkan seorang Kyai guna mengasuh jamaah yang semakin bertambah tersebut.  Beberapa bulan kemudian, Kyai Naim meminta K.H. Djalal Suyuthi untuk memikul tugas tersebut.  Karena mushola sudah tidak mampu menampungkan jamaah, maka Bapak Juwahir pun mewakafkan sebagian tanahnya untuk dijadikan masjid. Untuk menyiarkan agama islam, simbah K.H. Djalal Suyuthi mendirikan pondok pesantren pada tahun 1926. Pada masa kepimpinan beliau, kondisi bangsa Indonesia masih berada pada masa penjajahan. Keadaan paling tragis terjadi antara tahun 1942-1946 dimasa penjajahan Jepang. Pondok pesantren mengalami kemacetan total karena tekanan Jepang. Baru pada tahun 1947 kehidupan pesantren kembali normal, dan pada tahun itu pula K.H Djalal Suyuthi dipanggil oleh Allah SWT.
                Sepeninggal K.H. Djalal Suyuthi, kepimpinan pondok pesantren dipegang oleh K.H Duri (putre beliau) dan pondok pesantren ini diberi nama “As-Suyuthiyyah”, diambil dari nama pendirinya. K.H. Duri memegang kepimpinan hingga tahun 1963 dengan jumlah santri sekitar 50-70 orang.
                Setelah K.H. Duri meninggal pada tahun 1963, Pesantren dipimpin oleh adik beliau yang bernama K.H. Muh. Suhudi. Pada masa kepimpinannya, pesantren banyak mengalami goncangan karena pengaruh suhu politik di Indonesia yang sedang memanas.  Sebagai Puncak resesi/goncangan tersebut, pada tahun 1975 jumlah santri tinggal 23 orang. Tetapi pada tahun itu pula didirikan TK dan fasilitas pendidikan ditambah untuk mendidik anak-anak usia tersebut. Kepimpinan K.H Muh. Suhudi berlangsung sampai tahun 1983 karena beliau meninggal dunia.
                  Pada tahun 1983, kepimpinan pondok pesantren dipegang oleh K.Fatkhurrohman (putra K.H. Duri). Saat itu keadaan pondok pesantren telah normal kembali. Beliau banyak mengadakan pembaharuan. Antara lain perubahan nama pondok pesantren menjadi “Al- Manar” yang diambil dari nama group orkes gambus di Desa Bener yang saat itu ketenarannya sampai ke Jawa Timur sekitar tahun 1960-1975.
                 Masjid lama yang dibangun oleh K.H. dalal Suyuthi dipugar bangunan pondok ditambah dan pendidikan formal dimasukkan ke dalam kurikulum pondok pesantren. Pada tahun 1985 didirikan Madrasah Tsanawiyah, menyusul pada tahun 1989 didirikan Madrasah Aliyah. Terakhir pada tahun 1992 beliau mendirikan yayasan Al-manar sebagai wadah yang lebih formal dan legtimit. Namun beliau belum sempat melihat perkembangan Al-Manar lebih lanjut karena telah dipanggil oleh Allah SWT pada tanggal 28 Juli 1993.
                  Sepeninggal K. Fatkhurrohman pada tahun 1993, kepimpinan beliau dilanjutkan oleh menantu beliau, K. Muhammad Imam Fauzy. Pada masa ini Madrasah Aliyah diubah menjadi Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK) tepatnya pada tahun 1994/1995. Dan jumlah santri mencapai 537 orang dari Jawa dan Luar Jawa. Namun pada tanggal 11 Mei 2000/ 6 Shafar 1421 beliau meninggal dunia dalam usia 35 tahun.
                  Sepeninggal beliau, pesantren dipimpin oleh K. As’ad Haris Nasution Fatkhurrohman yang merupakan putra ketiga dari K. Fatkhurrohman. Sampai profil ini dibuat, kepimpinan Pondok Pesantren Al-Manar masih berada di tangan beliau.
                    Dari uraian diatas dapat kita ketahui bahwa tokoh-tokoh yang pernah mengasuh Pondok Pesantren Al-Manar adalah berikut:
K.H. Djalal Suyuthi.                       : tahun 1913-1947
K.H. Duri.                                        : tahun 1947-1963
K.H. Muh. Suhudi.                         : tahun 1963-1983
Kyai Fatkhurrohman.                    : tahun 1983-1993
Kyai Muhammad Imam Fauzy.   : tahun 1993-2000
Kyai As’ad Haris Nasution F.       : tahun 2000-sekarang
Tiga Tokoh Al Manar ( dalam kenangan)

1. K.H. Djalal Suyuthi
Beliau lahir di salam kanci, sebuah desa dibarat daya kota magelang. Sebagai putra kyai yunus yang merupakan tokoh masyarakat desa tersebut. Perawakannya gagah, berkulit putih, dan sangat patuh pada orang tua. Pernah suatu hari kelaparan menimpa keluarga kyai yunus ini, namun djalal kecil ini tidak menangis bahkan beliau dapat membahagiakan orang tuanya dengan berkata: "meniko sedanten saking nikmatipun Gusti Allah ta'ala ingkang kedah kulo lan bopo ibu syukuri".
Keilmuan beliau diawali dari kyai yunus sendiri mengenai baca Al-qur'an, sholat, dan do'a do'a. Lalu dengan berbekal seadanya beliau berjalan dari rumahnya menuju pulau garam untuk berguru kepada K.H. Kholil Bangkalan, Madura.
Pada masa penjajahan jepang tahun 1942 pernah terjadi suatu kejadian dengan daerah daerah yang dilewati beliau. Jalan yang melintasi daerah tersebut (sekarang disebut jl. Raya Solo-Semarang) tidak mampu dilewati tentara jepang. Dikabarkan bahwa itu karena pagar ghaib dari K.H. Djalal Suyuthi ketika jepang tahu, beliau ditangkap dan ingin dibawa ke markas. Namun baru melangkah beberapa meter, Kyai Djalal Suyuthi menjatuhkan pecinya. Beliau memberikan satu tantangan, bila tentara jepang mampu mengangkat peci tersebut, beliau bersedia dibawa dan sebaliknya bila tidak mampu. Ternyata tak satupun dari mereka yang mampu akhirnya beliau dilepaskan.
Diceritakan pada bahwa beliau pernah melakukan shalat di pinggir jalan setapak dan dilihat sebagai batu besar oleh tentara jepang. Suatu ketika kelebihan beliau didengar oleh paduka yang mulia sultan Hamengku Buwono 1 Keraton Ngayogyokarto. Beliau dipanggil untuk dinobatkan menjadi Bupati wilayah Kartusuro (sekarang surakarta). Beliau menolak dengan halus dengan alasan lebih suka mengaji bersama para santri.
Begitulah sebagian kecil perjalanan sang pejuang yang begitu haus akan ilmu, penuh keprihatinan, kesabaran, tegar, serta tidak terganggu anak maupun istri. Sehingga tanpa dimintapun beliau sebenarnya telah benar benar siap mengemban misi suci dakwah di Desa patungsari yang kini menjadi Desa Bener seperti yang diminta Kyai Na'im, teman beliau yang telah benar benar mengakui keluhuran ilmu yang dimiliki oleh Kyai Djalal. Beliau akhirnya menghadap Allah SWT pada hari Rabu Pon, 29 Oktober 1947 di klero (rumah istri ketiga).
2. K. Fatkhurrohman
       Beliau lahir didesa bener ( petungsari) 3 KM sebelah selatan kota salatiga, dari seorang ayah bernama K.H. Duri (putra kedua K.H. Djalal suyuthi) dan ibu bernama juwariyatun. Beliau besar di lingkungan pesantren dan berkembang menjadi pemuda yang lincah, cerdas, rajin, ulet, dan tekun beribadah. Teman teman beliau selalu menjadikannya yang rerdepan. Bahkan dalam hal olahraga seperti catur, bulu tangkis dll, beliau sering menjuarainya. Beliau juga dikenal sebagai orang yang selalu tampil rapi dengan kesederhanaan dan berdisiplin tinggi.
Beliau juga terkenal dengan sifat "sako". Paling tidak suka dengan orang yang bakhil. Secara "sirri" beliau sering memberi makan santri dan anak desa Bener yang membutuhkan sejak usia dini sudah belajar mengaji, mula mula belajar Al qur'an dari ayahnya sendiri. Setelah khatam beliau baru mempelajari cabang ilmu yang lain seperti; jurumiyah, sulam munajah, amtsilatut tashrifiyah, dan sulam taufiq.
Lazimnya pesantren pesantren di kaliwungu, santri diperkenakan mengaji ke pesantren lain, maka beliaupun nyantri kepada K. Komed, pengasuh PP. ASPIR, sebelah barat laut Masjid Agung Al muttaqin. Beliau memperdalam ilmu alat "Alfiyyah ibnu malik". Beliau juga memperdalam ilmu tafsir kepada K. Rukhyat, pengasuh PP, APIK, sebelah utara masjid agung. Dan men tashihkan Al qur'an kepada K. Asror, pengasuh PP. Tahfizul qur'an, sebelah utara masjid agung.
Pergaulan beliau dengan santri sangat akrab. Salah satunya dengan santri yang bernama M. Maksum yang asli dari daerah itu. Seperti santri lain, ia pun kagum kepada beliau hingga hubungan keduanya seaka akan seperti saudara yang dekat. Beliau sering diajak ke rumahnya hingga akhirnya keluarga M. Maksum bermaksud menikahkan adik perempuanya yang bernama Evit Musyarofah dengan beliau. Beberapa bulan kemudian, K. Fatkhurohman menerima tawaran itu.
3. K. Muhammad Imam Fauzy
        Kyai Muhammad Imam Fauzy adalah putra K. Soekarno (pionir pon pes Al ittihad, poncol, bringin) yang lahir pada tanggal 9 september 1964, pada awalnya bekiau adalah santri pondok pesantren Al manar yang dinikahkan dengan putri sulung K. Fatkhurohman (Nyai Fatekhah Ulfah) pada tanggal 23 Maret 1989. Dari pernikahan ini, beliau dikaruniai 3 putri dan 1 laki laki yang bernama; Ivah Fuzah, Nur Faizatul Latifah, M. Itqon Faza Al A'rof, Rahma Adibatul Fauziyah.
Beliau diangkat menjadi pengasuh pondok pesantren Al manqr sejak sepeniggalnya K. Fatkhurohman (1993) sampai (2000). Selama itu banyak kemajuan yang dicapai. Penambahan sarana pra sarana berupa gedung, dibukanya program khusus setingkat SLTA yaitu Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK) pada tahun 1994/1995 yang sebelumnya adalah Madrasah Aliyah Umum (MAU). Serta peningakatan kualitas dan kuantitas sendiri.
Demikianlah catatan singkat mengenai Pondok Pesantren Al Manar, semoga tulisan ini bisa dapat menjawab beberapa pertanyaan tentang beliau. Semoga Allah senantiasa memberikan petunjuk pada kami tentang hal hal yang salah dalam tulisan ini.


                                                                                                pemohon

                                                                                              Miftakhudin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar