Minggu, 24 November 2019

Sejarah penyebaran islam di Berdug wetan Ampel Boyolali SMS1

SEJARAH PENYEBARAN ISLAM DAN PEMBANGUNAN MASJID AL ISTIQOMAH
Di Susun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Sejarah           Peradaban Islam

Dosen pengampu : Khoirul anwar, M.Ag.

DI SUSUN OLEH:
     Nama :  Irwan Hendrawan (33010190159)
    PROGAN STUDI HUKUM KELUARGA ISLAM FAKULTAS SYARIAH
                    INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA

Penyebaran Islam Di Desa Berdug wetan  Sidomulyo Ampel Boyolali

Berdug wetan adalah desa yang terletak di kaki gunung merbabu tepatnya berada di kelurahan Sidomulyo kecamatan Ampel kabupaten Boyolali Jawa Tengah, desa berdug wetan memiliki masyarakat yang tentram dan damai walaupun masyarakatnya yang 50% di menganut agama islam dan 50% lagi menganut agama kristen, dulu sebelum agam islam masuk ke desa ini mayoritas penduduknya beragama kejawen atau agama yang berasal darii jawa tapi setelah indonesia merdeka atau kurang lebih tahun 1945 islam mulai masuk ke desa berdug wetan melalui orang yang bernama mbah mudi yang mengajarkan islam dengan cara mengajak anak-anak untuk mengaji bahnkan tidak jarang juga ada bebrapa prang tua remaja yang ikut mengaji dan lama kelamaan orang orang mulai berbondong bondong masuk ke agama islam mbah mudi adalah orang yang berasal dari desa tumpak yaitu desa yang letaknya tidak jauh dari desa berdug wetan ia juga menyebarkan islam dengan cara berdakwah ke desa desa yang masyarakatnya belum mengenal islam ia jug sering mengadakan drama drama atau pentas seni yang melibatkan anak-anak, remaja, bahkan orang tua untuk menarik perhatian masyarakat untuk masuk islam acara tersebut biasanya diadakan saat hari  besar islam misalnya maulid nabi,idul fitri,idul adha dll. Hal ini ia lakukan untuk menyebarkan islam dengan cara mendekati masyarakat yang kental akan budaya sehingga ia mengabungkan agama dengan budaya bahkan saat ia menyebarkan dan kesehariannya pun dia tidak mengunakan baju koko  atau jubah ia malah mengunakan baju kejawen atau lurik lengkap dengan blaangkon nya. Dalam mengajari anak anak dalam mengaji ia mengunakan sebuah kayu yang berbentuk persegi panjang yang ia ambil dari potongan kayu yang digunakan untuk tembok rumah dan kapur gamping sebagi kapur atau alat tulisnya dengan alat yang sederhana tersebut ia mengajari anak-anak kecil membaca huruf hijaiyah dan anak-anak kecil belajar dengan bahagian dan semangat sedangkan murid yang remaja diajarkan lebih insentiv karena semangat belajar mereka tak se semangat anak anak kecil, mbah mudi mengajari mengaji dan berdakwah biasanya sehabis shalat isya dan ia berdakwah dan mengajari dengan penerangan yang seadanya yaitu dengan lilin dan ia mengajar mengaji hinga larut malam dan setelah selesai ia akan pulang ke rumahnya tidak jarang juga ia sering tidur di rumah warga berdug wetan karena terlalu malam untuk pulang jkerumah nya yang jaraknya lumayan jauh dan harus melewati sungai dan perkebunan warga walaupun begitu mbah mudi tidak pernah mengeluh dan itu pula yang membuat i warga berdug wetan sangat menyukai kepribadian mbah mudi,hingga semua orang menyegani mbah mudi  dan mengangap mbah mudi sebagai ustadz dan tetua desa pak mudi di senangi juga karena menyebarkan islam dengan tidak menghilangkan budaya yang sudah sejak dulu sudah ada dan turun trmurun dilestarikan oleh masyarakat akan tetapi ia menyisipkan ajaran islam dalam budaya tersebut misalnya adat sadranan yang isiny mendoakan leluhur yang sudah meninggal akan tetapi ia tidak melarang masyarakat untuk membawa makanan dan ayam ingkung untuk di bawa ke makam dan acar bersih dusun atau kerap di kenal dengan merti dusun juga di sisipkan islam yaitu acara doa sebelum acara merti dusun tepatnya sebelum acara kondangan atau syukuran .
Dan dalam menyebarkan islam mbah mudi juga di bantu oleh anak nya yang bernama ihsan dan mas ihsan lah yang meneruskan perjuangan ayahnya. Pada tahun 1980 adalah masa diaman adanya transmigrasi pertama dan banyak masyrakat  jawa yang mengikuti progam tersebut salah satunya adalah mbah mudi yang bertransmigrasi ke sumatra untuk mengais rizki di sumatra dan setelah mbah mudi pergi e sumatra as ihsan lah yang meneruskan perjuangan ayahnya ia meyebarkan islam sudah mengunakan cara yang moderen yaitu dengan berdakwah di masji masjid dan mengjar anak anak mengaji sudah mengunakan papan tulis dan kapur walaupun alat yang digunakan sudah oderen bukan berarti ia mengajarkan dengan menghilangkan buaya tradisional ia tetap juga berprinsp seperti ayahnya yaitu tidak ingin menghilangkan buadya yang sudah ada malahan anak anak yang diajari oleh beliau lebih mudah mengerti akan tetapi mas ihsan tidak lama dalam menyebarkan islam dan berdakwah di desa berdug wetan karena ia harus ikut istri nya tinggal dengan mertuanya ke Jawa Timur setelah ia menkah i istri nya. Dan setelah mbah mudi dan mas ihsan tidak ada warga berinisiatif untuk mengaji sendiri dengan cara orangyang sudah dewas dan sudah bisa baca al quran dengan baik dan benar mengajari yang lebih kecil dan hal tersebut dilakukan secara turun temurun hingga searang sehingga ilmu yang diberkan oleh mbah mudi dan mas ihsan dapat terus tersalurkan dan turun temurun akan disamapakan ke anak-anak di desa berdug wetan dan serinng berjalanya waktu masyarakat berudg wetan semakin banyak yaang memeluk agama islam dan ada juga yang memeluk agama kristen. Dan hingga sekarang populasi masyrakat berdug wetan semakin meningkat dan ajaran yang di ajarkan oleh mbah mudi akan terus di lestarikan walaupan kemajuan jaman yang mengikis budaya tersebut dan islam di berdug wetan. Dan warga berdu wetan yang lebih sepuh akan mengawasi jalan nya proses belajar mengajar tentang agama di desa berdug wetan, akan tetapi dala di desa berdug wetan tidak banyak yang bisa berdakwah atau berkutbah di masjid sehingga masyarkat lebih mengaandalkan orang dari luar untuk berdakwah di desa berdug wetan walaupun sebenarnya banyak warga yang seharusnya bisa berutbah akan tetapi mereka tidak mau tanpa alasan tertentu, walaupun begitu setidaknya warga desa berdug wetan masih ingin mengaji dan mendengarkan dakwah. Pendopo untuk dakwah:

         PROSES PEMBANGUNAN MASJID AL ISTIQOMAH BERDDUG WETAN

        Dulu sebelum masjid al istiqomah di bangun warga berdug wetan mengaji dan melaksanakan solat berjamaah di pendopo sebuah rumah pendopo itu pula yang digunakan untuk mbah mudi untu berakwah dan mengjarakan anak-anak mengaji. Dan ketika shalat jum’at maka warga berdug wetan melaksanakan shalat jum’at di masji desa sebelah yang letaknya tidak terlalu jauh dari desa berdug wetan, sendangkan jika ingin melaksanakan  shalat idul fitri atau idul adha masyarakat melaksankanya di lapang desa yang letaknya di timur desa. Dan setelah masyarakat berdug wetan sudah semakin banyak yang memeluk  agama islam dan di adakanlah musyawarah untuk pembuatan sebuah masjid dan mengundang mbah mudi sebagai tetua sehingga diputuskan akan dibangun sebuah masjid di atas tanah wakaf yang di wakafkan oleh warga berdug wetan yang bernma mbah marto dan sebagian tanah oleh mbah mugi akan tetapi dalam proses pembuatan masjid tersebut di buat sendiri yang dbuat secara gotong royong, bahan yang digunakan untuk mebangun masjid seperti batu dan pasir di ambil sendiri oleh para warga berdug wetan dari sungai yang letaknya lumayan jauh kurang lebih 2KM dari desa dan di ambil dengan cara jalan kaki dan pasir dan batu tersebut di pikul oleh laki-laki sedangan yang perempuan juga membantu dengan cara menggendong batu atau pasir yang sudah di masukan dalam kranjang proses pengmbilan bahan tersebut dilaksanakan setelah msyarakat berdug wetan menyelesaikan urusnnya di ladang masing-masing dan bahan lain seperti genting dan batu bata tidak membeli melainkan membuat sendiri bahan tersebut di buat secara gotong royong juga proses pembuatan batu bata dl lakuan di suatu kebun milik warga berdug wetan dan mengambil tanah liat dari pekarangan itu juga dan pembuatan batu bata dilaksanakan sebelum proses pengambilan batu dan pasir pembuatan batu bata dilakukan secara otodidak hanya ada satu warga berdug wetan yang pernah mengetahui cara pembuatan batu bata dan genting proses pembuatan batu bata dan genting itu sendiri dilaksanakan pada malam hari dan dilakukan secara bersama-sama oleh bapak-bapak dan remaja laki-laki sedangkan ibu-ibu dan remaja perempuan menyiapkan makanan dan minuman bagi yang bekerja.

Sedangkangkan kayu yang digunakan untuk atap masjid di dapat dari ladang warga yang menyumbangkan pohon yang rata-rata pohon yang disumbangkan adalah pohon yang sudah tua dan pohon yang berjenis pohon jati atau pohon kelapa yang  di jadikan atap masjid, kayu kayu tersebut tidak lamgsumg digunakan melainkan dijemur terlebih dahulu agar kadar air pada kayu berkurang sehingg kayu-kayu tersebut tahan lama atau awet, setelah proses penjemuran yang memakan kurang lebih 2 minggu kayu kayu tersebut akan di potong sesuai kebutuhan,setelah di potong kayu-kayu tersebut di haluskan untuk kayu yang gunakan untuk pintu atau jendela,setelah di haluskan kayu-kayu tersebut akan di cat agar tidak mudah di makan oleh rayap
           Setelah bahan-bahan tersebut terkumpul proses pembuaatan masjid dimulai yakni pada tahun 1970 an pada awal pembuatan masjid tersebut masyarakat harus merubah sebagian halaman rumah dan sebagian kebun menjadi sebuah pondasi bangunan proses pembuatan masjid tersebut dilaksanakan oleh semua masyarakat baik itu bapak-bapak, ibu-ibu, remaja perempuan maupun remaja laki-laki bahkan anak –anak kecilpun ikut membuat masjid tersebut. Dalam proses pembuatan masjid semua warga yang menganut agama islam ikut berpartisipasi dalam pembuatan masjid tersebut, mereka sangat berantusias karena masjid desa berdug wetan adalah hal yang sangat di nanti-nanti dan di dambakan oleh masyarakat muslim di berdug wetan, karena keberadaan masjid telah di tunggu sejak dulu, karena pada jaman dulu populasi muslim di desa berdug wetan belum sebanyak di saat pembangunan masjid, walaupun mereka sudah terbiasa shalat di pendopo milik salah satu warga akan tetapi masjid adalah impian semua warga muslim di berdug wetan, dengan adanya rencana pembuatan masjid tersebut masyarakat non muslim tidak tersinggunng bahkan mendukung tidak jarang juga warga non muslim ikut membuat makanan untuk orang yang sedang bergotong royong membangun masjid. Sedangkan proses pembangunannya pun tidak mudah, mereka membangun masjid itu dengan alat yang sederhana dan bahan seadanya dan proses pembangunan masjid ini dilakukan di siang dan malam hari dan semua kalangan warga ikut membantu jika proses pembangunan di lakukan di malam hari maka anak-anak kecil tidak membantu dan hanya orang dewasa lah yang mebangun masjid tersebut dan ketika malam hari pembangunan masjid di terangi oleh penerangan yang seadanya yaitu lampu  sentir(lampu dari minyak tanah) atau lililawal dari pembuatan masjid harus membuat tanah yang dulunya tidak rata bahkan miring harus di buat rata dan harus menyingkirkan pohon semak agar terlihat bersih dan dapat dibangun sebuah masjid, proses ini adalah proses yang sangat panjang karena lokasi yang akan di bangun masjid sangat susah sehinga proses ini mamakan waktu yang cukup lama, setelah terbentuknya pondasi warga yang bergotong-royong mulai untuk menata batu bata yang sudah selesai di buat agar menjadi sebuah banunan setelah semua bangunan jadi barulah memasang atap bangunan dari kayu yang sudah di keringkan dan di buatlah kerangka atap masjid untuk genting-yang akan di pasang proses pembangunan masjid ini kira-kira memakan waktu 6 bulan atau setengah tahun hal ini di karenakan bahan-bahan yang mepet, alat yang digunakan sederhana, terkendala cuaca, dan warga berdug wetan sendiri masih memiliki kewajiban untuk mencarnafkah di ladang masing-masing sehinga prosses pembuatannya pun terbilang sangat lamban dengan ukuruan bangunan masjid yang awal mulanya terbilang kecil akan tetapi proses pembangunan ini hanya memakan biaya sedikit karena bahan-bahan yang digunakan rata-rata tidak membeli hanya sebagian bahan saja yang hasil dari membeli hal ini di lakukan bukan tanpa alasan karena pada jaman dahulu penduduk muslim di desa berdug wetan mayoritas berprofesi sebagai petani yang pendapatannya sedikit dan boleh di bilang miskin karena dalam keseharian mereka hanya bisa hidup dengan sederhana walaupun hidup mereka sederhana dengan adanya pembangunan al istiqomah tersebut mereka tetap mendukung semampunya dan tetap berantusias karena pembangunan masjid tersebut bagi mereka adalah suatu imipian.
Setelah 6 bulan warga membangun masjid tersebut akhirnya masjid yang di dambakan masyarakat  berdug wetan pun jadi dan oleh tetua desa atau mbah mudi memberikan nama masjid tersebut masji AL-ISTIQOMAH, menurut saya pemberian nama istiqomah buakanlah hanya sekedar menamai saja karena menurut saya di balik nama istiqomah tersebut adalah makna dari proses pembangunan tersebut yang berarti warga berdug wetan yang bersikap teguh membangun masjid tersebut walaupun ekonomi mereka susah dan konsekuen dalam membangun masjid tersebut karena mereka membangun masjid selama 6 bulan tanpa mengeluh dan berhenti dalam proses pembangunan masjid itu sendiri dan hal hal tersebut sesuai dengan arti dari al istiqomah tersebut yaitu kata yang berasal dari bahasa arab istiqama, yastaqimu, istiqamah yang berarti tegak lurus dan dalam KBBI istiqomah sendiri berarti sikap teguh pendirian dan selalu konsekuen. Setelah masjid itu jadi masyarakat muslim di desa berdug wetan pun sangat senang dan gembira menyambut bangunan masjid yang telah jadi tersebut,hinga sekarang masjid tersebut ber umur kurang lebih 44 tahun sudah mengalami renovasi pada tahun 2008 dan kini masjid tersebut sudah menjadi masjid yang cukup besar dan ramai jama’ah
Gambar masjid AL-ISTIQOMAH:









Tidak ada komentar:

Posting Komentar