Minggu, 24 November 2019

Sejarah Ponpes Edi Mancoro Gedangan SMS1


MAKALAH

SEJARAH PONDOK PESANTREN EDI MANCORO
Disusun Guna Memenuhi Tugas Individu Mata Kuliah Sejarah Peradaban Islam
Dosen Pengampu : Khoirul Anwar, M. Ag




Disusun Oleh :
Musdalifah           (33010190145)

 PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA ISLAM
FAKULTAS SYARIAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA
2019

A.    Biografi Pendiri Pondok Pesantren Edi Mancoro
 
                             K.H Mahfud Ridwan lahir dari pasangan KH. Ridwan dan Hj. Maimunah di Desa Pulutan, Sidorejo, Semarang (yang sekarang menjadi kota madya salatiga). Pada tanggal 10 Oktober 1941. Pendidikan dasar beliau sebagian besar dihabiskan di dunia Pesantren. Semasa di Pulutan, Kyai Mahfud sempat merasakan pendidikan umum di Sekolah Rakyat (SR). tetapi itu ditempuhnya hanya sebentar dan ia memilih memperdalam ilmu agamanya di berbagai Pesantren. Setelah sekolah rakyat beliau melanjutkan pendidikan di Rembang sekaligus mondok. Lalu beliau menunaikan ibadah haji bersama rombongan haji. Setelah rombongan haji pulang, beliau sudah berniat untuk melanjutkan pendidikan dari Rembang ke  Mekkah selama 3 tahun. Selanjutnya beliau kuliah di Baghdad (Irak) University di jurusan Syariah dan Adab (Sastra) yang mana pada waktu itu satu kamar bersama K.H Abdurrahman Wahid (Gus Dur).  Kota Baghdad telah menjadi saksi bisu terjalinya persahabatan tiga sosok pemuda  yakni Kyai Mahfud, Gus Dur, dan Gus Mus yang kelak menjadi “tiga serangkai” pembaharu NU. Meskipun mereka bertiga sudah saling mengenal satu sama lain, tetapi persahabatan mereka baru terjalin begitu intens ketika mereka kuliah dalam satu fakultas yang sama di Universitas Bagdad.
                 Sejak kecil beliau sudah di pesantren, jadi lingkungan pesantren sudah tidak asing baginya. Melanjutkan studi ke negeri Arab dan Irak menambah pengetahuan beliau yang mendalam tentang ilmu islam, khususnya syariah dan sastra arab yang beliau pelajari kurang dari 5 tahun.
                 Sepulang dari Irak, sekitar tahun 70’an (lebih tepatnya 24 Oktober 1970) beliau menikah dengan Hj. Nafisah puteri dari seorang guru ngaji di Dusun Bandungan yaitu K.H Soleh yang tidak lain adalah teman dari K.H Ridwan, ayah Kyai mahfud. Nyai Nafisah yang saat itu masih sekolah di SMK Kristen 1 Salatiga, merupakan gadis tetangga Desa yang pernah di jumpainya sewaktu masih masa-masa remaja. Setelah menikah beliau langsung pindah ke Gedangan, tuntang, Semarang bersama sang istri, Hj. Nafisah. Sejak menikah dengan Nyai nafisah, Kyai Mahfud menjalani suka duka bahtera rumah tangganya scara sederhana. Awalnya, Nyai Nafisah agak pesimis untuk mengajak suaminya, sang sarjana lulusan Universitas Baghdad, untuk hidup sederhana layaknya kehidupan petani pada umumnya. Tapi, keraguan itu runtuh seketika saat melihat Kyai Mahfud tidak pernah sungkan dan enggan untuk pergi mencangkul kesawah. Dikala pagi menjelang, Kyai Mahfud senantiasa menempatkan diri untuk pergi ke sawah maupun sekedar merawat kebun salak di samping pekarangan rumahnya.
            Kedatangan Kyai Mahfud di Dusun bandungan memang memberikan kesan mendalam bagi masyarakat warga Gedangan. Kyai Mahfud tidak hanya menginspirasi warga untuk giat bertani tetapi juga dalam hal beragam, khusunya tentang bagaimana menjaga hubungan baik dengan masyarakat sekitar yang non-muslim. Konon, Kyai Mahfud pernah kedatangan seorang tamu Kristen, hari itu yang kebetulan adalah hari jumat, si tamu Kristen minta izin kepada Kyai Mahfud untuk turut serta dalam jamaah solat jumat, tanpa berpikir panjang Kyai Mahfud pun mengijinkan dan mengajaknya pergi ke Masjid bersama-sama.
            Semenjak kepulanganya dari Baghdad dan kemudian menikah dengan Nyai Nafisah, Kyai Mahfud tidak segan-segan untuk terjun langsung mendampingi masyarakat. pada tahun 1984 Kyai Mahfud bersama para aktivis tahun 80’an yaitu KH. Muhammad, HM. Soleh, Matori Abdul Djalil, Zainal Arifin, serta Ali Tahsisuddin, mendirikan yayasan yang bernama Yayasan Desaku Maju(YDM) yang secara resmi didirikan pada tahun1984. Yayasan ini merupakan yayasan yang bergerak dibidang sosial yang mengemban misi dan tujuan membantu pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. YDM mampu memberikan angin segar bagi pengembangan perekonomian masyarakat yang memang menjadi fokus utama pendampingan-pendampingan YDM. Untuk menjawab tantangan di bidang keagamaan, Kyai Mahfud Ridwan mendirikan pondok pesantren yaitu Edi Mancoro. Pondok pesantren ini di buat dengan maksud memberikan nilai-nilai keagamaan bagi pemberdayaan masyarakat ini berdiri pada tanggal 26 Desember 1989.
            Selama mengayuh bahtera rumah tangga bersama Nyai Nafisah, Kyai Mahfud di anugrahi kehadiran tiga putra dan satu putri. Yaitu yang pertama Gus Ir. Khamud Wibisono lahir pada tanggal 15 Januari 1972, yang kedua Ning Dr. Muna Erawati lahir pada tanggal 18 Desember 1875, yang ketiga Gus Muh. Syauqi Prayogo lahir pada tanggal 12 Februari 1980, dan yang terakhir Gus Muhamad Hanif lahir pada tanggal 18 Agustus 1983. Dari sekian banyaknya putra Kyai Mahfud yang berpendidikan yang berbasis pondok pesantren hanya Gus Hanif.
            Pada tanggal 28 Mei 2017 sekitar pukul 14.45 di RSUD Salatiga Kyai Mahfud menghembuskan nafas terakhirnya. Setelah kepulangan Kyai Mahfud semua urusan kepesantrenan diteruskan kepada salah satu putranya yaitu Gus Muhamad Hanif M.Hum putra terakhir Kyai Mahfud Ridwan.
B.     Sejarah Pondok Pesantren Edi Mancoro
Sebelum kedatangan Kyai Mahfud di Desa Gedangan, saat itu telah berdiri sebuah pondok kecil disebelah masjid Darussalam. Pondok tersebut pertama kali didirikan oleh KH. Soleh, mertua Kyai Mahfud. Pendirian pondok pesantren ini di latarbelakangi oleh keperdulian KH. Soleh terhadap pola keberagamaan masyarakat Gedangan yang di anggapnya masih rawan. Maka dari itu, sebagai juru Da’i, KH. Soleh pun mendirikan pondok tersebut untuk memberikan warna baru bagi kehidupan masyarakat Gedangan. Melalui masjid dan pondok Darussalam inilah KH. Soleh mengajak warga untuk merubah pola keberagamaan yang notabenya masih awam.
Ketika KH. Soleh wafat pada tahun 1970, aktifitas dakwah di pondok digantikan oleh Kyai Sukemi, sesepuh warga Gedangan yang ditokohkan oleh masyarakat. Pada tahun 1976, Kyai Sukemi dipanggil oleh Allah Swt. Kyai Mahfud, yang saat itu telah menjadi menantu dari KH. Soleh secara otomatis mengambil alih peran Kyai Sukemi untuk melanjutkan perjuangan mertuanya dalam mendidik pola keberagamaan warga Gedangan.
Pada sisi yang lain, saat itu rumah Kyai Mahfud telah menjadi pusat kegiatan diskusi mahasiswa. Dalan setiap harinya, tidak sedikit aktifitas mahasiswa yang berdiskusi dan bermalam dirumah Kyai Mahfud. Disamping berdiskusi tentang persoalan-persoalan kemasyarakatan, sering kali Kyai Mahfud juga mengajak mereka untuk ngaji. Kyai Mahfud mengajak mengenalkan para aktifis mahasiswa untuk mendalami ilmu-ilmu agama yang terkandung dalam berbagai kitab-kitab klasik miliknya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kegiatan inilah yang kelak menginspirasi Kyai Mahfud untuk mendirikan pondok.
Pada akhir 1989 tepatnya pada tanggal 26 Desember 1989, Kyai Mahfud mendirikan mendirikan pesantren yang disebut pondok pesantren Edi Mancoro dibawah “Yayasan Desaku Maju” sebagai pusat pendidikan masyarakat khususnya bagi masyarakat setempat sekaligus sebagai basecamp berbagai kegiatan.
Sebenarnya Kyai Mahfud tidak perlu repot-repot mendirikan pondok pesantren yang baru. Jika bersedia Kyai Mahfud hanya tinggal melanjutkan pondok peninggalan mertuanya, yakni pondok Darussalam. Tetapi, Kyai Mahfud merupakan sosok yang mandiri dan tidak ingin bergantung pada orang lain, termasuk pada peninggalan mertuanya. Mungkin, komitmen semacam itulah yang mendasari tentang pendirian pondok barunya, yakni “tidak ingin due pondok, tapi ingin gawe pondok” komitmen tersebut merupakan penegasan bahwa dirinya tidak ingin terikat dengan warisan keluarga, baik itu berbentuk tanah maupun harta yang lainya. Lebih-lebih Kyai Mahfud juga tidak ingin mendirikan pondok barunya, yakni Edi Mancoro, diatas sebuah lahan warisan mertuanya. Sebab, Kyai Mahfud berpandangan bahwa jika pondok didirikan diatas tanah milik keluarganya, lebih-lebih diatas warisan tanah mertuanya, bisa saja kelak pondok itu akan menjadi sumber perpecahan bagi keluarganya. Tidak sedikit dari beberapa pondok pesantren di Indonesia yang kerap dianggap sebagai “harta warisan” telah menjadi sumber perpecahan.
Jika dibandingkan dengan pondok-pondok pesantren lainya, Edi Mancoro termasuk salah satu pesantren yang paling unik. Selain karangan namanya, sistem pendidikan yang diterapkan didalamnya juga terbilang sangat unik. Setiap santri Edi Mancoro di tuntut dan di didik agar senantiasa bersikap toleran terhadap para pemeluk agama lainya. Hal demikian cukup tampak dengan pola pendidikan yang diterapkan oleh Kyai Mahfud terhadap santri-santrinya.
Penamaan Edi Mancoro juga dilatar belakangi oleh sebuah kisah pengalaman spiritual yang unik. Konon, ketika Kyai Mahfud telah tinggal di Gedangan saat itu masyarakat sekitar terbilang masih sangat awam dengan pengetahuan keagamaan. Bahkan, tidak jarang pula diantaranya ada yang menjadi preman dan bajingan. Suatu ketika, datanglah salah satu preman kampong kepada Kyai Mahfud untuk belajar tentang agama. Si preman ini awalnya terkagum-kagum dengan pola sosok Kyai Mahfud yang begitu telaten dan sabra, terutama dalam melayani para santri-santrinya yang nakal-nakal. Berangkat dari itulah maka si preman tersebut mendatangi Kyai Mahfud untuk belajar ilmu agam. Atas bimbingan Kyai Mahfud, akhirnya si preman ini benar-benar bertaubat dan insaf dari dunia kepremanya.
Suatu ketika, si preman mendatangi rumah Kyai Mahfud dengan membawa satu permohonan. Kelak jika Kyai Mahfud memiliki putra yang ke-lima, si preman ini meminta agar Kyai Mahfud memberi nama Edi Mancoro. Tidak lama berselang pertemuan tersebut, Kyai Mahfud mendengar kabar bahwa si preman meninggal dunia. Kyai Mahfud merasa pertemuanya sangat berkesan, Kyai Mahfud merasa tersentuh dengan tekad si preman yang bersedia hijrah dari dunia gelapnya. Tetapi, sayangnya pasca kejadian itu Kyai Mahfud tidak di anugrahi keturunan lagi. Akhirnya, untuk menghargai proses hijrah si preman kampong, Kyai Mahfud merealisasikan nama titipanya kepada putra idiologisnya, yakni pondok pesantren Edi Mancoro.
Sejak tahun 2010 Kyai Mahfud mengurangi aktifitasnya di luar kota dan memfokuskan tugasnya sebagai pengasuh pondok pesantren. Sekitar tahun 2015 kesehatan Kyai Mahfud mulai menurun dan mulai mengurangi aktifitasnya di pondok dan banyak mempercayakan urusan pondoknya kepada Gus Hanif.
Pada pertengahan bulai Mei 2017, pesantren Edi Mancoro menggelar acara akhirussanah. Acara itu dihadiri oleh beberapa tokoh penting. Saat itu, Kyai Mahfud masih terlihat begitu antusias menerima para tamu dirumahnya. Padahal, saat itu Kyai Mahfud seharusnya istirahat total dan tidak boleh keluar ruangan. Setelah acara akhirussanah rampung dan tamu-tamu telah pulang, tiba-tiba tubuh Kyai Mahfud mulai terasa panah. Tiga hari kemudian, kesehatan Kyai Mahfud benar-benar menurun. Pada tanggal 28 Mei 2017 KH. Mahfud Ridwan dipanggil oleh Allah SWT. Setelah beliau wafat, posisi beliau digantikan oleh putranya yang bernama Gus Muhamad Hanif.










LAMPIRAN




PONDOK PESANTREN EDI MANCORO

Makam KH. Mahfud Ridwan
Masjid Darussalam Gedangan
Nyai. HJ. Nafisah Mahfud Ridwan



Tidak ada komentar:

Posting Komentar