MAKALAH
SEJARAH PONDOK PESANTREN EDI MANCORO
Disusun Guna Memenuhi Tugas Individu Mata Kuliah
Sejarah Peradaban Islam
Dosen Pengampu : Khoirul Anwar, M. Ag
Disusun Oleh :
Musdalifah (33010190145)
PROGRAM STUDI
HUKUM KELUARGA ISLAM
FAKULTAS SYARIAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA
2019
A.
Biografi Pendiri
Pondok Pesantren Edi Mancoro
K.H Mahfud Ridwan lahir
dari pasangan KH. Ridwan dan Hj. Maimunah di Desa Pulutan, Sidorejo, Semarang
(yang sekarang menjadi kota madya salatiga). Pada tanggal 10 Oktober 1941.
Pendidikan dasar beliau sebagian besar dihabiskan di dunia Pesantren. Semasa di
Pulutan, Kyai Mahfud sempat merasakan pendidikan umum di Sekolah Rakyat (SR).
tetapi itu ditempuhnya hanya sebentar dan ia memilih memperdalam ilmu agamanya
di berbagai Pesantren. Setelah sekolah rakyat beliau melanjutkan pendidikan di
Rembang sekaligus mondok. Lalu beliau menunaikan ibadah haji bersama rombongan
haji. Setelah rombongan haji pulang, beliau sudah berniat untuk melanjutkan
pendidikan dari Rembang ke Mekkah selama
3 tahun. Selanjutnya beliau kuliah di Baghdad (Irak) University di jurusan
Syariah dan Adab (Sastra) yang mana pada waktu itu satu kamar bersama K.H
Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Kota
Baghdad telah menjadi saksi bisu terjalinya persahabatan tiga sosok pemuda yakni Kyai Mahfud, Gus Dur, dan Gus Mus yang
kelak menjadi “tiga serangkai” pembaharu NU. Meskipun mereka bertiga sudah
saling mengenal satu sama lain, tetapi persahabatan mereka baru terjalin begitu
intens ketika mereka kuliah dalam satu fakultas yang sama di Universitas
Bagdad.
Sejak kecil beliau sudah di
pesantren, jadi lingkungan pesantren sudah tidak asing baginya. Melanjutkan
studi ke negeri Arab dan Irak menambah pengetahuan beliau yang mendalam tentang
ilmu islam, khususnya syariah dan sastra arab yang beliau pelajari kurang dari
5 tahun.
Sepulang dari Irak, sekitar
tahun 70’an (lebih tepatnya 24 Oktober 1970) beliau menikah dengan Hj. Nafisah
puteri dari seorang guru ngaji di Dusun Bandungan yaitu K.H Soleh yang tidak
lain adalah teman dari K.H Ridwan, ayah Kyai mahfud. Nyai Nafisah yang saat itu
masih sekolah di SMK Kristen 1 Salatiga, merupakan gadis tetangga Desa yang
pernah di jumpainya sewaktu masih masa-masa remaja. Setelah menikah beliau
langsung pindah ke Gedangan, tuntang, Semarang bersama sang istri, Hj. Nafisah.
Sejak menikah dengan Nyai nafisah, Kyai Mahfud menjalani suka duka bahtera
rumah tangganya scara sederhana. Awalnya, Nyai Nafisah agak pesimis untuk
mengajak suaminya, sang sarjana lulusan Universitas Baghdad, untuk hidup
sederhana layaknya kehidupan petani pada umumnya. Tapi, keraguan itu runtuh
seketika saat melihat Kyai Mahfud tidak pernah sungkan dan enggan untuk pergi
mencangkul kesawah. Dikala pagi menjelang, Kyai Mahfud senantiasa menempatkan
diri untuk pergi ke sawah maupun sekedar merawat kebun salak di samping
pekarangan rumahnya.
Kedatangan Kyai Mahfud di Dusun
bandungan memang memberikan kesan mendalam bagi masyarakat warga Gedangan. Kyai
Mahfud tidak hanya menginspirasi warga untuk giat bertani tetapi juga dalam hal
beragam, khusunya tentang bagaimana menjaga hubungan baik dengan masyarakat
sekitar yang non-muslim. Konon, Kyai Mahfud pernah kedatangan seorang tamu
Kristen, hari itu yang kebetulan adalah hari jumat, si tamu Kristen minta izin
kepada Kyai Mahfud untuk turut serta dalam jamaah solat jumat, tanpa berpikir
panjang Kyai Mahfud pun mengijinkan dan mengajaknya pergi ke Masjid
bersama-sama.
Semenjak kepulanganya dari Baghdad
dan kemudian menikah dengan Nyai Nafisah, Kyai Mahfud tidak segan-segan untuk
terjun langsung mendampingi masyarakat. pada tahun 1984 Kyai Mahfud bersama
para aktivis tahun 80’an yaitu KH. Muhammad, HM. Soleh, Matori Abdul Djalil,
Zainal Arifin, serta Ali Tahsisuddin, mendirikan yayasan yang bernama Yayasan
Desaku Maju(YDM) yang secara resmi didirikan pada tahun1984. Yayasan ini
merupakan yayasan yang bergerak dibidang sosial yang mengemban misi dan tujuan
membantu pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. YDM mampu
memberikan angin segar bagi pengembangan perekonomian masyarakat yang memang
menjadi fokus utama pendampingan-pendampingan YDM. Untuk menjawab tantangan di
bidang keagamaan, Kyai Mahfud Ridwan mendirikan pondok pesantren yaitu Edi
Mancoro. Pondok pesantren ini di buat dengan maksud memberikan nilai-nilai
keagamaan bagi pemberdayaan masyarakat ini berdiri pada tanggal 26 Desember
1989.
Selama mengayuh bahtera rumah tangga
bersama Nyai Nafisah, Kyai Mahfud di anugrahi kehadiran tiga putra dan satu
putri. Yaitu yang pertama Gus Ir. Khamud Wibisono lahir pada tanggal 15 Januari
1972, yang kedua Ning Dr. Muna Erawati lahir pada tanggal 18 Desember 1875,
yang ketiga Gus Muh. Syauqi Prayogo lahir pada tanggal 12 Februari 1980, dan
yang terakhir Gus Muhamad Hanif lahir pada tanggal 18 Agustus 1983. Dari sekian
banyaknya putra Kyai Mahfud yang berpendidikan yang berbasis pondok pesantren
hanya Gus Hanif.
Pada tanggal 28 Mei 2017 sekitar
pukul 14.45 di RSUD Salatiga Kyai Mahfud menghembuskan nafas terakhirnya.
Setelah kepulangan Kyai Mahfud semua urusan kepesantrenan diteruskan kepada
salah satu putranya yaitu Gus Muhamad Hanif M.Hum putra terakhir Kyai Mahfud
Ridwan.
B.
Sejarah Pondok
Pesantren Edi Mancoro
Sebelum kedatangan Kyai Mahfud di Desa
Gedangan, saat itu telah berdiri sebuah pondok kecil disebelah masjid
Darussalam. Pondok tersebut pertama kali didirikan oleh KH. Soleh, mertua Kyai
Mahfud. Pendirian pondok pesantren ini di latarbelakangi oleh keperdulian KH.
Soleh terhadap pola keberagamaan masyarakat Gedangan yang di anggapnya masih
rawan. Maka dari itu, sebagai juru Da’i, KH. Soleh pun mendirikan pondok
tersebut untuk memberikan warna baru bagi kehidupan masyarakat Gedangan.
Melalui masjid dan pondok Darussalam inilah KH. Soleh mengajak warga untuk
merubah pola keberagamaan yang notabenya masih awam.
Ketika KH. Soleh wafat pada tahun 1970,
aktifitas dakwah di pondok digantikan oleh Kyai Sukemi, sesepuh warga Gedangan
yang ditokohkan oleh masyarakat. Pada tahun 1976, Kyai Sukemi dipanggil oleh
Allah Swt. Kyai Mahfud, yang saat itu telah menjadi menantu dari KH. Soleh
secara otomatis mengambil alih peran Kyai Sukemi untuk melanjutkan perjuangan
mertuanya dalam mendidik pola keberagamaan warga Gedangan.
Pada sisi yang lain, saat itu rumah Kyai
Mahfud telah menjadi pusat kegiatan diskusi mahasiswa. Dalan setiap harinya,
tidak sedikit aktifitas mahasiswa yang berdiskusi dan bermalam dirumah Kyai
Mahfud. Disamping berdiskusi tentang persoalan-persoalan kemasyarakatan, sering
kali Kyai Mahfud juga mengajak mereka untuk ngaji. Kyai Mahfud mengajak
mengenalkan para aktifis mahasiswa untuk mendalami ilmu-ilmu agama yang
terkandung dalam berbagai kitab-kitab klasik miliknya. Dengan demikian dapat
dikatakan bahwa kegiatan inilah yang kelak menginspirasi Kyai Mahfud untuk
mendirikan pondok.
Pada akhir 1989 tepatnya pada tanggal 26
Desember 1989, Kyai Mahfud mendirikan mendirikan pesantren yang disebut pondok
pesantren Edi Mancoro dibawah “Yayasan Desaku Maju” sebagai pusat pendidikan masyarakat
khususnya bagi masyarakat setempat sekaligus sebagai basecamp berbagai
kegiatan.
Sebenarnya Kyai Mahfud tidak perlu
repot-repot mendirikan pondok pesantren yang baru. Jika bersedia Kyai Mahfud
hanya tinggal melanjutkan pondok peninggalan mertuanya, yakni pondok
Darussalam. Tetapi, Kyai Mahfud merupakan sosok yang mandiri dan tidak ingin
bergantung pada orang lain, termasuk pada peninggalan mertuanya. Mungkin,
komitmen semacam itulah yang mendasari tentang pendirian pondok barunya, yakni “tidak
ingin due pondok, tapi ingin gawe pondok” komitmen tersebut merupakan
penegasan bahwa dirinya tidak ingin terikat dengan warisan keluarga, baik itu
berbentuk tanah maupun harta yang lainya. Lebih-lebih Kyai Mahfud juga tidak
ingin mendirikan pondok barunya, yakni Edi Mancoro, diatas sebuah lahan warisan
mertuanya. Sebab, Kyai Mahfud berpandangan bahwa jika pondok didirikan diatas
tanah milik keluarganya, lebih-lebih diatas warisan tanah mertuanya, bisa saja
kelak pondok itu akan menjadi sumber perpecahan bagi keluarganya. Tidak sedikit
dari beberapa pondok pesantren di Indonesia yang kerap dianggap sebagai “harta
warisan” telah menjadi sumber perpecahan.
Jika dibandingkan dengan pondok-pondok
pesantren lainya, Edi Mancoro termasuk salah satu pesantren yang paling unik.
Selain karangan namanya, sistem pendidikan yang diterapkan didalamnya juga
terbilang sangat unik. Setiap santri Edi Mancoro di tuntut dan di didik agar
senantiasa bersikap toleran terhadap para pemeluk agama lainya. Hal demikian
cukup tampak dengan pola pendidikan yang diterapkan oleh Kyai Mahfud terhadap
santri-santrinya.
Penamaan Edi Mancoro juga dilatar belakangi
oleh sebuah kisah pengalaman spiritual yang unik. Konon, ketika Kyai Mahfud
telah tinggal di Gedangan saat itu masyarakat sekitar terbilang masih sangat
awam dengan pengetahuan keagamaan. Bahkan, tidak jarang pula diantaranya ada
yang menjadi preman dan bajingan. Suatu ketika, datanglah salah satu preman
kampong kepada Kyai Mahfud untuk belajar tentang agama. Si preman ini awalnya
terkagum-kagum dengan pola sosok Kyai Mahfud yang begitu telaten dan sabra,
terutama dalam melayani para santri-santrinya yang nakal-nakal. Berangkat dari
itulah maka si preman tersebut mendatangi Kyai Mahfud untuk belajar ilmu agam.
Atas bimbingan Kyai Mahfud, akhirnya si preman ini benar-benar bertaubat dan
insaf dari dunia kepremanya.
Suatu ketika, si preman mendatangi rumah
Kyai Mahfud dengan membawa satu permohonan. Kelak jika Kyai Mahfud memiliki
putra yang ke-lima, si preman ini meminta agar Kyai Mahfud memberi nama Edi
Mancoro. Tidak lama berselang pertemuan tersebut, Kyai Mahfud mendengar kabar
bahwa si preman meninggal dunia. Kyai Mahfud merasa pertemuanya sangat
berkesan, Kyai Mahfud merasa tersentuh dengan tekad si preman yang bersedia
hijrah dari dunia gelapnya. Tetapi, sayangnya pasca kejadian itu Kyai Mahfud
tidak di anugrahi keturunan lagi. Akhirnya, untuk menghargai proses hijrah si
preman kampong, Kyai Mahfud merealisasikan nama titipanya kepada putra
idiologisnya, yakni pondok pesantren Edi Mancoro.
Sejak tahun 2010 Kyai Mahfud mengurangi
aktifitasnya di luar kota dan memfokuskan tugasnya sebagai pengasuh pondok
pesantren. Sekitar tahun 2015 kesehatan Kyai Mahfud mulai menurun dan mulai
mengurangi aktifitasnya di pondok dan banyak mempercayakan urusan pondoknya
kepada Gus Hanif.
Pada pertengahan bulai Mei 2017, pesantren
Edi Mancoro menggelar acara akhirussanah. Acara itu dihadiri oleh beberapa
tokoh penting. Saat itu, Kyai Mahfud masih terlihat begitu antusias menerima
para tamu dirumahnya. Padahal, saat itu Kyai Mahfud seharusnya istirahat total
dan tidak boleh keluar ruangan. Setelah acara akhirussanah rampung dan
tamu-tamu telah pulang, tiba-tiba tubuh Kyai Mahfud mulai terasa panah. Tiga
hari kemudian, kesehatan Kyai Mahfud benar-benar menurun. Pada tanggal 28 Mei
2017 KH. Mahfud Ridwan dipanggil oleh Allah SWT. Setelah beliau wafat, posisi
beliau digantikan oleh putranya yang bernama Gus Muhamad Hanif.
LAMPIRAN
PONDOK PESANTREN EDI MANCORO
Makam KH. Mahfud Ridwan
Masjid Darussalam Gedangan
Nyai. HJ. Nafisah Mahfud Ridwan







Tidak ada komentar:
Posting Komentar