Minggu, 24 November 2019

Sejarah desa Kedungreja dan Sedekah Laut di Cilacap SMS1

Nama      : Ibnu Malik
Nim          : 33010190135
Jurusan   : Hukum Keluarga Islam ( kelas D )

Sejarah Desa Kedungreja dan Sedekah Laut di Kabupaten Cilacap


 Sejarah Desa Kedungreja

Sejarah desa Kedungreja pada dasarnya merupakan sebuah cerita yang didasarkan pada sebuah cerita yang turun temurun. Cerita yang dipercayai oleh masyarakat setempat yang bersumber dari nenek moyang atau sesepuh adat yang tidak lain adalah masyarakat yang sudah hidup didesa kedungreja sejak masa lampau yang sudah mati atau masih hidup. Cerita tersebut sangat dipercayai oleh masyarakat khususnya warga dari desa Kedungreja tapi cerita tersebut belum dipastikan kebenarannya.
Desa Kedungreja ini terletak di kabupaten Cilacap, provinsi Jawa Tengah khususnya terletak di kabupaten Cilacap bagian barat sendiri yang berbatasan barat langsung dengan provinsi Jawa Barat yang berbatasan dengan kabupaten Ciamis dan kabupaten Pangandaran

Desa kedungreja ini adalah desa yang didalamnya terdapat pertemuan antara budaya sunda dan budaya jawa banyumasan. Bahasa yang digunakan sehari hari oleh masyarakat kedungreja umumnya adalah bahasa banyumasan ( bahasa ngapak ) tetapi tidak jarang didaerah perbatasan banyak masyarakat banyak yang menggunakan bahasa sunda untuk bahasa sehari hari. Mayoritas masyarakat kedungreja umumnya beragama islam tetapi sebagian ada yang beragama kristen maupun lainnya, tetapi kerukunan umat beragama ini bisa terjaga dengan damai saling bertoleransi satu sama lainnya.

Sejarah desa Kedungreja pada dasarnya adalah sejarah yang perlu dibuktikan kebenarannya. Tetapi dari sisi kebenaran yang ada desa Kedungreja menurut sesepuh setempat  desa kedungreja adalah yang dulunya sebuah rawa atau danau yang ditutupi oleh hutan atau alas yang mengelilingi rawa tersebut. Rawa tersebut digunakan masyarakat setempat untuk mencari ikan karena konon dahulu ikan dirawa  ini tidak pernah habis walaupun sudah diambil dengan jumlah yang banyak. 

Menurut mbah santaslim desa kedungreja berasal dari 2 kata yaitu kedung dan reja. ‘’Kedung’’, yang artinya sungai atau rawa dalam bahasa jawa, dan ‘’reja’’, yang artinya baik atau jaya juga dalam bahasa jawa. Jadi menurut mbah santaslim desa kedungreja adalah suatu desa yang dulunya adalah  sebuah rawa yang luas yang digunakan untuk mencari nafkah oleh daerah setempat sehingga rawa tersebut membawa kebaikan atau kejayaan untuk orang yang mencaari makan dirawa ini.

Mbah santaslim ini adalah sesepuh yang tertua di desa kedungreja ini. Mbah santaslim ini kelahiran taun 1925 dia lahir dikebumen. Umur beliau sekarang sudah 1 abad lebih, tetapi beliau nampak masih sehat. Dia dahulu dibawa oleh seorang ulama yang berasal dari sumatera untuk pergi ke suatu tempat. Tujuannya untuk mengaji atau mencari ilmu agama. Ulama tersebut kata mbah santaslim adalah seseorang yang mendirikan desa kedungreja. Ulama tersebut terkenal dengan nama ki ngabien. Ki ngabien ini mendirikan desa kedungreja dengan cara mengubur rawa dengan tanah yang berasal dari suatu bukit, bukit tersebut terkenal dengan sebutan gunung goong. Gunung goong ini diambil tanahnya secara manual oleh masyarakat setempat dan ki ngabien kerawa tersebut, dan jarak kira antara gunung goong dengan rawa tersebut dalah 5 km an. Dan proses penguburan rawa tersebut dilakukan selama hampir 5 bulan, hal itu dikarenakan kondisi alam dan luasnya rawa tersebut yang sangat luas dan tempatnya yang agak jauh dan sulit dijangkau.

Jaman dahulu konon kata mbah santaslim, desa kedungreja ini merupakan desa yang belum mengenal agama, dan masih banyak sekali masyarakat yang sering melakukan perbuatan yang menyimpang terhadap ajaran agama islam. Contohnya seperti: minum-minuman keras(mabuk), mencuri, madon, menyutukan Allah swt(syirik), dan masih banyak lagi lainnya. Hal ini membuat sebagian masyarakat resah dan ingin mengubah kebiasaan masyarakat yang seperti ini untuk menjadi lebih baik lagi. 

Ada sebagian masyarakat yang ingin menasehati mereka dengan ajaran islam tetapi tidak mampu untuk menasehatinya sehingga seseorang itu mendatangkan seorang ulama yang bernama ki ngabien tadi. Ki ngabien tadi didatangkan dari kebumen sekitar tahun 1943 dari kebumen. Pada saat itu usia dari mbah santasekitar masih remaja tutur mbah santaslim. Sebelum mbah ngabien tadi datang desa kedungreja ini sebagian masih rawa, dan kemaksiatan masih meraja lela dimana mana. Sehingga membuat hati ki ngabien ini peduli untuk meluruskan jalan yang benar yaitu jalan menurut ajaran islam.

 Namun dakwah tidak semulus yang diharapkan ki ngabien. Cobaan dan tantangan yang harus dihadapi sangat susah karena masyarakat yang masih megikuti kebudayaan kejawen dan menyembah kuburan atau pohon yang dikeramatkan. Dakwah dan nasehat yang diberikan ki ngabien disia siakan begitu saja oleh masyarakat setempat. Selain itu ki ngabien juga membangun mesjid di desa kedungreja tapi sekarang masjid itu sudah roboh karena adanya bencana gempa. 

Pada saat itu menurut mbah santaslim metode dakwah ki ngabien itu menggunakan cara yang pernah dilakukan oleh sunan kalijaga :
Metode keseian.
Metode langsung ( langsung menasehati rakyat).
Metode menggunakan ritual.
             Metode-metode itu lah yang digunakan ki ngabien untuk berdakwah mensyiarkan  agaama islam di desa kedungreja dan sekitarnya. Walaupun mendapat cacian dan hinaan ki ngabien tetap sabar dan terus berdakwah agama islam kepada masyarakat. Tapi lama kelamaan masyarakat setempat percaya terhdap agama yang dibawa oleh ki ngabien tersebut karena masyarakat beranggapan bahwa agama yang dibawa oleh ki ngabien itu adalah agama yang sesat dan tidak benar.

Sejarah Sedekah laut di Cilacap

Cilacap merupakan sebuah kabupaten yang berhadapan langsung dengan laut selatan. Sehingga mayoritas masyarakat kabupaten cilacap ini adalah nelayan dan petani. Dari keadaan geografis kabupaten cilacap banyak sekali menimbulkan  bermacam macam budaya yang harus dilestarikan dan harus diketahui oleh kalangan anak muda, anak-anak, bahkan harus diketahui oleh kalangan internasional. Contoh kebudayaan dari kebudayaan cilacap yang terkenal aadalah acara sedekah laut. 

Acara sedekah laut ini menurut sesepuh desa saya atau menurut mbah santaslim adalah upacara pemberian sesaji yang dilarungkan dilaut selatan yang bertujuan untuk ucapan sukur. Ini adalah contoh gambar sedekah laut yang dilaksanakan ditahun lalu. Karena urusan kuliah dan tidak bisa pulang maka saya tidak bisa menghadiri langsung acara sedekah laut itu.

Dari pembicaraan saya dengan mbah santaslim saya menyimpulkan bahwa Sedekah laut merupakan sebuah ritual yang digunakan oleh masyarakat pesisir pantai laut selatan daerah cilacap yang digunakan sebagai rasa simbol bersukur atas nikmat hasil laut yang dilimpahkan oleh Allah swt. Sedekah laut ini diadakan sejak adanya pergantian bupati kabupaten cilacap yang ke tiga. Pada saat itu bupatinya adalah R,Tumenggung Tjakra 3 werdoyo bupati ke tiga dari kabupaten cilacap tepatnya pada tahun 1983. Pada saat itu R,Tumenggung tjakra werdoyo memerintahkan kepada sesepuh pesisir pantai selatan cilacap ki Arsa menawi  untuk melarung sesaji ke laut selatan. Sedekah laut ini dilaksanakan setiap memasuki bulan asyuro dalam kalender jawa.

 Sedekah laut ini dilaksanakan bukan untuk menyesatkan warga atau terkait deengan kepercayaan tertentu tetapi ritual ini ditujukan untuk melesetarikan budaya yang sudah turun temurun dan sebagai simbol bersukur atas nikmat  Allah swt karena sudah sudah memberikan nikmat luar biasa atas hasil laut yang sudah dilimpahkan. 

Sedekah laut ini menurut mbah santaslim biasanya dilaksanakan setiap 1 syuro. Dengan pemberian sesaji atau jolen (ojo kelalen) yang dilarungkan ke laut pantai selatan. Jolen ini biasanya berisi kepala kerbau, tumpeng golong (tumpeng yang berisi lauk pauk), jajanan pasar. Biasanya jolen ini dibuat dengan 9 jolen (8 dari nelayan dan 1 dari pemerintah kabupaten). Jolen ini diarak dari pantai teluk penyu sampai ke selatan pulau nusakambangan karena konon disitu pusatnya kabupaten cilacap. Pengarakan tersebut dapat diiringi dengan berbagai tarian seperti barong sai, ebeg(kuda lumpimg), lengger, dan biasanya padaa malam hari setelah pelarungan jolen pemerintah mengadakan pertunjukan wayang kulit untuk hiburan masyarakat. Peserta sedekah laut tidak hanya dari nelayan saja tapi banyak dari masyarakat daerah lain yang hanya datang untuk bisa melihat acara ssedekah laut ini. Tapi biasanya peserta sedekah laut ini mengarak jolen menggunakan kereta kencana dan jolen itu biaasanya diangkat dibahu para sesepuh adat daerah tersebut.

Itu adalah gambar prosesi pelarungan jolen. Jolen tersebut dibuat sangat menarik sekali dengan dibuatkan seperti rumah rumahan yang dihias dengan janur kuning diatasnya. Dan biasanya masyarakat sekitar juga mengadakan adus keris( pemandian barang pusaka). Adus keris ini dilakukan di tepi hamparan sungai serayu karna diyakini akan membawa berkah. Sedekah laut ini merupaakan ritual yang menarik minat wisatawan luar kota maupun luar negri, Sehingga ritual ini perlu dilestarikan dan jangan sampai punah. Demikian lah wawancara yang dapat mbah santaslim berikan kepada saya, kurang lebihnya mohon maaf.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar