Sabtu, 23 November 2019

Kiai kampung desa Karang Duwet Salatiga Alm. KH. Muzayin SMS1


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
  السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Penulis : Muhammad Ova Lutfi Badrul Huda
NIM     : 33010190142
Kelas   : HKI D
Tulisan ini disusun untuk memenuhi tugas dari makul SPI semester 1 IAIN SALATIGA

Perjalanan Alm. KH. Muzayin dan Dibalik
Kesuksesan Anak-Anaknya

Alm. KH. Muzayin merupakan seorang kiai kampung di sebuah desa yang bernama desa Karang Duwet yang terletak di Kelurahan Kutowinangun Lor, Kecamatan Tingkir, Kota Salatiga. “Beliaulah yang pertama kali membawa agama islam ke desa tersebut,” cetus seorang istri dari salah satu anak beliau. Sang kiai yang berasal dari desa Kalibening, Kec. Tingkir, Kota Salatiga tersebut, pada saat datang ke desa Karang Duwet saat itu, desa tersebut masih berupa hutan dan sebagian merupakan pemakaman Karang Duwet. Beliau membeli sebidang tanah di desa tersebut dan sekaligus memindahkan makam yang semulanya berada di desa itu ke pemakaman Karang Duwet yang ada di Jalan Candisari sekarang ini. 

Makam Karang Duwet, JL. Candisari, Kel. Kutowinangun Lor
Kec. Tingkir, Kota Salatiga

        Selain terkenal dengan sebutan orang yang pertama kali membawa agama islam ke desa tersebut, beliau juga terkenal dengan sebutan orang yang pertama kali mengadzani desa tersebut. Dalam menyebarkan agama islam di desa tersebut, beliau mendirikan sebuah tempat dimana anak-anak maupun orang dewasa belajar mengaji di salah satu ruang di rumah kiai tersebut. Beliau terkenal dengan sosok yang tegas namun memiliki kelembutan hati dan sekaligus murah hati terhadap sesame makhluk ciptaan Tuhan. Kiai kampung tersebut beserta istrinya Siti Rohmanah dikaruniai 10 orang anak (satu keguguran dan satu orang lagi telah meninggal dunia). Beliau dan istrinya mula-mula membeli lagi tanah untuk memperluas rumahnya agar dapat menampung lebih banyak lagi murid-murid yang ingin belajar mengaji dan lebih mengenal dengan Allah SWT. Setelah anak-anaknya mulai tumbuh beliau memasukkan semua anak laki-lakinya kedalam pesantren. 
 
Siti Rohmanah istri dari Alm. KH. Muzayin

Sang Kiai kampung itu setelah merasa memiliki luas tanah yang cukup, beliau beserta anak-anak dan murid-muridnya mendirikan sebuah mushala yang kini dinamai Mushala Istianah yang terletak beberapa meter saja dari rumahnya. Beliau setelah mendirikan mushala tersebut, memindahkan tempat pembelajarannya yang semula berada di rumahnya kini di mushala yang sebelum direnovasi masih berbentuk seperti rumah kayu. 

Mushala Istianah setelah direnovasi
Membicarakan tentang kesuksesan anak-anaknya, tentunya tak terlepas dari seberapa besar pengaruh dari ayahnya yang sekaligus menjelma menjadi salah satu guru tempat dimana mereka menuntut ilmu. “Ayah saya dulunya juga merupakan seorang pedagang pakaian namun belum sesukses sekarang ini,” cetus dari Kiai Muhammad Maksum salah satu anak dari sang kiai tersebut. Beliau juga mengatakan bahwasanya ayahnya juga berpesan kepada anak-anaknya. Karena betapa banyaknya pesan beliau, saya selaku penulis hanya mencantumkan beberapa pesannya saja, diantara lain yaitu:
-       -  Jangan pernah meninggalkan ajaran agama islam.
-       - Jangan pernah meninggalkan saudara maupun orang-orang sekitarmu yang sedang kesusahan.
-       -  Hiasi rumahmu dengan warna hijau/kuning jangan menggunakan warna merah.
-      - Adab dan Ilmu merupakan kunci kesuksesan hidup, kalau udah menjadi orang yang berpangkat jangan lupa waktu kita sedang beranjak menggapainya.
-  -  Ilmu yang kamu dapat jangan lupa diajarkan ke orang lain dan jangan lupa keluarkan sebagian penghasilanmu untuk orang-orang yang lebih membutuhkan.


Omah Branded (sebelah atas) dan Omah Klambi (sebelah bawah)
 salah satu toko pakaian dari anak-anaknya

Kiai Muhammad Maksum (salah seorang kiai penerus di desa Karang Duwet sekaligus anak dan murid dari Alm. KH. Muzayin) juga mengatakan bahwasanya anak-anak dari Alm. KH. Muzayin hampir semua bertempat tinggal di tempat dimana sang kiai tersebut pertama kalinya menyebarkan agama islam di desa Karang Duwet. Beliau juga menambahkan bahwasanya tanah ini semua sebenarnya warisan dari ayah saya namun beberapa dibagikan ke saudaranya dan anak-anaknya. Jadi sebenarnya, kami warga disini masih memiliki satu darah keturunan yang sama.
Terlepas dari semua itu menurut saya Alm. KH. Muzayin memiliki pengaruh yang sangat besar di desa Karang Duwet. Selain penyebar dan pengadzan pertama kali di desa tersebut, banyak sekali terdapat peninggalan-peninggalan yang masih berdiri kokoh dan masih dipergunakan sampai sekarang ini.
Saya selaku penulis ini, mengucapkan banyak terima kasih kepada para pembaca dan khususnya keluarga besar Bapak Muzayin yang telah berkenan memberikan data yang saya perlukan sehingga tulisan ini dapat terselesaikan. Tak lupa juga semoga keluarga besar Bapak Muzayin yang telah sangat berjasa pada desa tersebut semoga selalu diberkahi oleh Allah SWT dan untuk mengenang jasa dari Almarhum Bapak KH. Muzayin, marilah kita sejenak mengirimkan surat Al-Fatihah kepada beliau agar diberikan tempat yang terbaik disisinya.






2 komentar:

  1. Gambarnya kok double kenapa woy..!!?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi Yus!!!
      Maaf karena terjadi gangguan saat sedang mengupload yang mengakibatkan gambarnya double.

      Hapus