بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ
وَبَرَكَاتُهُ
NIM : 33010190142
Kelas : HKI D
Tulisan ini disusun untuk memenuhi tugas dari makul SPI semester 1 IAIN SALATIGA
Perjalanan Alm. KH. Muzayin dan Dibalik
Kesuksesan Anak-Anaknya
Alm.
KH. Muzayin merupakan seorang kiai kampung di sebuah desa yang bernama desa
Karang Duwet yang terletak di Kelurahan Kutowinangun Lor, Kecamatan Tingkir,
Kota Salatiga. “Beliaulah yang pertama kali membawa agama islam ke desa
tersebut,” cetus seorang istri dari salah satu anak beliau. Sang kiai yang
berasal dari desa Kalibening, Kec. Tingkir, Kota Salatiga tersebut, pada saat
datang ke desa Karang Duwet saat itu, desa tersebut masih berupa hutan dan
sebagian merupakan pemakaman Karang Duwet. Beliau membeli sebidang tanah di
desa tersebut dan sekaligus memindahkan makam yang semulanya berada di desa itu
ke pemakaman Karang Duwet yang ada di Jalan Candisari sekarang ini.
Makam Karang Duwet, JL. Candisari, Kel. Kutowinangun
Lor
Kec. Tingkir, Kota Salatiga
Selain
terkenal dengan sebutan orang yang pertama kali membawa agama islam ke desa
tersebut, beliau juga terkenal dengan sebutan orang yang pertama kali
mengadzani desa tersebut. Dalam menyebarkan agama islam di desa tersebut,
beliau mendirikan sebuah tempat dimana anak-anak maupun orang dewasa belajar
mengaji di salah satu ruang di rumah kiai tersebut. Beliau terkenal dengan
sosok yang tegas namun memiliki kelembutan hati dan sekaligus murah hati
terhadap sesame makhluk ciptaan Tuhan. Kiai kampung tersebut beserta istrinya
Siti Rohmanah dikaruniai 10 orang anak (satu keguguran dan satu orang lagi
telah meninggal dunia). Beliau dan istrinya mula-mula membeli lagi tanah untuk
memperluas rumahnya agar dapat menampung lebih banyak lagi murid-murid yang
ingin belajar mengaji dan lebih mengenal dengan Allah SWT. Setelah anak-anaknya
mulai tumbuh beliau memasukkan semua anak laki-lakinya kedalam pesantren.
Siti
Rohmanah istri dari Alm. KH. Muzayin
Sang
Kiai kampung itu setelah merasa memiliki luas tanah yang cukup, beliau beserta
anak-anak dan murid-muridnya mendirikan sebuah mushala yang kini dinamai
Mushala Istianah yang terletak beberapa meter saja dari rumahnya. Beliau
setelah mendirikan mushala tersebut, memindahkan tempat pembelajarannya yang
semula berada di rumahnya kini di mushala yang sebelum direnovasi masih
berbentuk seperti rumah kayu.
Mushala
Istianah setelah direnovasi
Membicarakan
tentang kesuksesan anak-anaknya, tentunya tak terlepas dari seberapa besar pengaruh
dari ayahnya yang sekaligus menjelma menjadi salah satu guru tempat dimana
mereka menuntut ilmu. “Ayah saya dulunya juga merupakan seorang pedagang
pakaian namun belum sesukses sekarang ini,” cetus dari Kiai Muhammad Maksum
salah satu anak dari sang kiai tersebut. Beliau juga mengatakan bahwasanya
ayahnya juga berpesan kepada anak-anaknya. Karena betapa banyaknya pesan
beliau, saya selaku penulis hanya mencantumkan beberapa pesannya saja, diantara
lain yaitu:
- - Jangan pernah
meninggalkan ajaran agama islam.
- - Jangan pernah
meninggalkan saudara maupun orang-orang sekitarmu yang sedang kesusahan.
- - Hiasi rumahmu
dengan warna hijau/kuning jangan menggunakan warna merah.
- - Adab dan Ilmu
merupakan kunci kesuksesan hidup, kalau udah menjadi orang yang berpangkat
jangan lupa waktu kita sedang beranjak menggapainya.
- - Ilmu yang kamu
dapat jangan lupa diajarkan ke orang lain dan jangan lupa keluarkan sebagian
penghasilanmu untuk orang-orang yang lebih membutuhkan.
Omah
Branded (sebelah atas) dan Omah Klambi (sebelah bawah)
salah satu toko pakaian dari anak-anaknya
Kiai
Muhammad Maksum (salah seorang kiai penerus di desa Karang Duwet sekaligus anak
dan murid dari Alm. KH. Muzayin) juga mengatakan bahwasanya anak-anak dari Alm.
KH. Muzayin hampir semua bertempat tinggal di tempat dimana sang kiai tersebut
pertama kalinya menyebarkan agama islam di desa Karang Duwet. Beliau juga
menambahkan bahwasanya tanah ini semua sebenarnya warisan dari ayah saya namun
beberapa dibagikan ke saudaranya dan anak-anaknya. Jadi sebenarnya, kami warga
disini masih memiliki satu darah keturunan yang sama.
Terlepas
dari semua itu menurut saya Alm. KH. Muzayin memiliki pengaruh yang sangat
besar di desa Karang Duwet. Selain penyebar dan pengadzan pertama kali di desa
tersebut, banyak sekali terdapat peninggalan-peninggalan yang masih berdiri
kokoh dan masih dipergunakan sampai sekarang ini.
Saya
selaku penulis ini, mengucapkan banyak terima kasih kepada para pembaca dan
khususnya keluarga besar Bapak Muzayin yang telah berkenan memberikan data yang
saya perlukan sehingga tulisan ini dapat terselesaikan. Tak lupa juga semoga
keluarga besar Bapak Muzayin yang telah sangat berjasa pada desa tersebut semoga
selalu diberkahi oleh Allah SWT dan untuk mengenang jasa dari Almarhum Bapak
KH. Muzayin, marilah kita sejenak mengirimkan surat Al-Fatihah kepada beliau
agar diberikan tempat yang terbaik disisinya.






Gambarnya kok double kenapa woy..!!?
BalasHapusHi Yus!!!
HapusMaaf karena terjadi gangguan saat sedang mengupload yang mengakibatkan gambarnya double.